Hujan masih turun lembut di luar jendela. Butir-butirnya menempel di kaca, membentuk pola acak yang berkilau terkena pantulan lampu kota. Udara malam terasa lebih dingin, namun di dalam ruang rawat bayi itu, suasananya justru pengap oleh sesuatu yang tak terlihat — ketegangan yang menggantung di antara napas tiga orang dewasa yang berusaha bersikap biasa-biasa saja.
Selesai makan malam, Mama Linda berdiri sambil merapikan tas tangannya. “Bram, kalau begitu, Mama dan Bu Laksmi pulang dulu, ya. Kalian bertiga jaga Alan baik-baik malam ini. Kalau ada apa-apa langsung kabari Mama.”
Bude Laksmi mengangguk pelan sambil tersenyum pada Alea. “Kalau bayi rewel, biasakan pelan-pelan elus punggungnya. Dia cepat tenang kok kalau ada kamu, Alea.”
Alea menunduk sopan. “Iya, Bude. Terima kasih.”
Bram menghampiri ibunya, menyalami tangannya sekilas. “Makasih, Ma. Hati-hati di jalan.”
Nada suaranya datar, tapi Mama Linda sudah terbiasa dengan gaya dingin putranya itu. Ia hanya menepuk bahu Bram sebentar sebelum berjalan keluar bersama Bude Laksmi, ditemani sopir Mama Linda yang membantu membawa tas.
Begitu pintu tertutup dan langkah-langkah mereka menghilang di lorong, suasana mendadak berubah.
Hening.
Seolah suara hujan di luar adalah satu-satunya yang berani bicara.
Bram duduk di sofa panjang dekat jendela, menyalakan tabletnya, pura-pura sibuk membaca laporan kerja. Tapi sesekali matanya terarah pada sosok Alea yang duduk di kursi, membuai baby Alan yang baru saja selesai minum ASI. Di bawah cahaya lampu kuning temaram, wajah Alea tampak lembut, tenang, tapi entah kenapa itu justru membuat d**a Bram terasa sesak.
Eka, yang duduk di sisi ranjang bayi, memperhatikan keduanya dari waktu ke waktu. Wajahnya tampak segar tapi bersemu merah muda, entah karena udara dingin atau sesuatu yang lain. Ia tersenyum kecil setiap kali Bram mengangkat kepalanya dari tablet.
“Mas Bram, aku boleh bantu rapikan meja makan tadi? Takutnya nanti perawat masuk malah kelihatan berantakan,” katanya dengan suara lembut.
“Boleh,” jawab Bram tanpa menoleh. Suaranya rendah dan dingin, tapi cukup membuat Eka bersemangat berdiri.
Alea menatap pemandangan itu dari kursinya. Ada senyum samar di bibirnya, tapi bukan karena geli — lebih pada rasa getir yang sulit dijelaskan. Ia menepuk pelan punggung Alan yang mulai mengantuk, lalu berbisik, “Tidur, Nak. Malam udah larut.”
Bayi itu menguap kecil, kelopak matanya menutup perlahan. Alea meletakkannya kembali ke ranjang bayi dengan hati-hati, menata selimut birunya. Tangannya terhenti sejenak di d**a kecil itu, memastikan napasnya teratur.
“Dia cepat banget tidurnya kalau sama kamu, Al,” ucap Eka sambil menatap kagum. “Aku aja tadi pas gendong malah nangis terus.”
Alea tersenyum tipis. “Bayi itu peka, Mbak. Mereka bisa tahu siapa yang hatinya tulus dan siapa yang lagi pura-pura tulus dengannya.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, tapi tanpa sadar membuat Bram menoleh sekilas dari tempat duduknya. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik — cukup untuk membuat udara di ruangan itu berubah tegang. Alea cepat-cepat memalingkan wajah, berpura-pura menata bantal kecil di sisi ranjang bayi.
“Kalau begitu, Al, istirahat aja di kamar sebelah, ya,” ujar Eka memecah keheningan. “Di sini udah ada bed tambahan, nanti aku yang tidur di situ biar bisa jaga Alan kalau rewel.”
“Lho, Mbak yakin?” tanya Alea pelan.
“Iya, aku biasa begadang kok. Nanti kalau Alan nangis, aku bangunin kamu aja.”
Alea sempat ingin menolak, tapi matanya mulai terasa berat. Seharian di perjalanan membuat tubuhnya lelah luar biasa. “Baiklah kalau begitu,” ujarnya akhirnya. “Tapi tolong dibangunkan ya kalau Alan minta s**u lagi.”
“Pasti, Al,” jawab Eka cepat sambil tersenyum.
Percakapan mereka terdengar ringan, tapi di telinga Bram, setiap kalimat terasa seperti gema yang menekan batinnya sendiri. Ia tahu Alea sedang berusaha bersikap wajar, tapi setiap gerakannya justru mengingatkannya pada masa lalu yang coba ia kubur.
Bram menutup tabletnya, berdiri perlahan. “Aku mandi dulu,” katanya pendek.
Eka yang baru saja meletakkan tisu di meja kecil itu langsung menoleh cepat. “Oh, aku siapin handuk sama bajunya ya, Mas Bram?” tanyanya antusias, bahkan langkahnya sempat setengah maju.
Namun Bram menatapnya sekilas, dingin tapi sopan. “Nggak usah. Aku bisa sendiri.”
Nada suaranya membuat Eka langsung menahan langkahnya. “Oh ... iya, Mas,” ujarnya cepat, wajahnya memerah.
Alea yang dari tadi diam ikut menunduk, pura-pura memperhatikan cemilan dan kotak s**u di meja. Tapi di sudut matanya, ia tahu Bram sempat melirik ke arahnya. Tatapan singkat itu seperti ujung pisau — tajam, dingin, tapi sarat dengan makna yang sulit ditebak.
Ia menarik napas pelan, menunduk lebih dalam.
“Oh, aslinya dingin ya orangnya. Seakan aku ini orang asing baginya. Tapi, nggak pa-pa, kok.”
Suara pintu kamar mandi tertutup. Beberapa detik kemudian terdengar suara air mengalir. Eka beranjak merapikan bantal di bed tambahan, lalu menatap Alea yang masih terdiam di kursi.
“Alea, aku beneran kagum deh,” katanya dengan nada jujur. “Kamu kok bisa tenang banget gitu ngurus bayi, padahal baru datang dari luar kota. Aku aja kalau capek sedikit udah nggak bisa fokus.”
Alea menatapnya dengan senyum samar. “Kalau udah biasa, nanti juga bisa, Mbak. Kuncinya cuma satu — sabar. Bayi bisa ngerasain kalau orang di sekitarnya tulus. Ini menurut pengalamanku ya saat ikutan ngurus anak tetangga.”
Eka tersipu. “Iya, Al ... aku belajar dari kamu deh, biar bisa ngurusin keponakanku.”
Alea mengangguk kecil. Ia beranjak berdiri, berjalan ke arah kamar kecil yang disediakan untuk pendamping pasien. Ruangan itu tidak terlalu besar tapi bersih, dengan satu tempat tidur, meja kecil, dan jendela kecil menghadap taman rumah sakit.
Begitu pintu tertutup, ia bersandar di baliknya, menutup mata sebentar. Napasnya berat.
“Ya Allah,” gumamnya pelan. “Kenapa aku harus berhadapan lagi dengan orang itu, di tempat ini, dalam keadaan seperti ini?”
Sementara di luar, Bram keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus tipis dan celana santai abu-abu. Rambutnya masih basah, kulitnya sedikit memerah karena air hangat. Ia mengambil handuk, mengeringkan lehernya, lalu melihat sekilas ke arah bed tambahan tempat Eka sudah berbaring sambil memainkan ponsel.
“Mas, mau saya buatin teh atau kopi?” tanya Eka tiba-tiba.
Bram menoleh. “Nggak usah. Aku masih mau baca laporan sebentar.”
“Oh ... baik, Mas.” Suara Eka menurun, tapi senyum masih tersisa di wajahnya.
Bram duduk kembali di sofa panjang, membuka tabletnya, tapi pikirannya tidak lagi di layar. Ia menatap kosong ke arah kamar tempat Alea beristirahat. Cahaya dari celah pintu terlihat samar, menandakan perempuan itu belum tidur.
Tangannya mengepal di pangkuan. “Kamu datang di waktu yang salah, Alea!”
Dalam diamnya, Bram tidak tahu bahwa di balik pintu kamar itu, Alea sedang duduk di tepi ranjang, menatap dinding putih polos sambil menggigit bibir bawahnya. Matanya hangat, tapi bukan karena kantuk — karena amarah yang ditahan terlalu lama.
“Dingin sekali dia sekarang. Seolah aku bukan siapa-siapa. Padahal dulu ....”
Alea menepis pikirannya sendiri. Ia berbaring, menarik selimut, mencoba tidur. Tapi suara detik jam dan dengung pendingin ruangan justru membuat pikirannya semakin gaduh.
Di luar, Bram masih duduk di sofa dengan tatapan kosong, sementara di sisi lain ruangan, Eka yang mulai terlelap memeluk bantal kecil di dadanya.
Hening.
Tapi hening yang menyesakkan.
Hujan berhenti perlahan, menyisakan embun di jendela. Di ruang rawat bayi itu, hanya bunyi napas Alan yang terdengar lembut dan tenang — kontras dengan dua hati dewasa yang bersembunyi di balik topeng ketenangan.
Malam itu berjalan panjang, tanpa satu pun dari mereka benar-benar bisa memejamkan mata dengan damai.
Dan di sela keheningan itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Bram dan Alea kembali berada di bawah atap yang sama — bukan sebagai suami istri, tapi dua orang asing yang menanggung rahasia yang sama.