Bab 5. Alea Cuek, Eka Cari Perhatian

1340 Kata
Malam menjelang di lantai lima rumah sakit swasta itu, langit di luar jendela mulai gelap sempurna. Lampu-lampu kota berkelip di kejauhan seperti bintang yang jatuh ke bumi. Di ruang rawat bayi VIP itu, udara terasa lebih tenang, namun suasana batin orang-orang di dalamnya justru berbanding terbalik—tegang, penuh emosi yang tak tersampaikan. Baby Alan tertidur pulas di ranjang kecilnya. Lampu kuning lembut di atas tempat tidur menambah kesan hangat di tengah malam rumah sakit yang biasanya dingin dan sunyi. Mama Linda duduk di kursi dekat jendela, menatap cucunya dengan wajah teduh. Di sisi lain, Bram berdiri bersandar di dekat lemari, menatap layar ponselnya sekilas sebelum mengembuskan napas berat. Eka sibuk melipat kain kecil dan menyusun peralatan bayi di meja. Sedangkan Alea baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian bersih berwarna lembut, rambutnya masih setengah basah, wangi sabun bayi tercium samar-samar setiap kali ia lewat. Mama Linda menoleh begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka. “Sudah segar, Nak Alea?” tanyanya ramah. Alea tersenyum sopan, menatap wanita paruh baya itu dengan lembut. “Iya, Bu. Maaf tadi agak lama. Badan rasanya pegal semua, soalnya baru sampai dari Yogyakarta tadi pagi.” “Oh, pantesan. Pasti capek sekali ya, Nak. Nanti Ibu suruh Bram pesankan makan malam buat kita semua, biar kamu juga bisa makan yang hangat-hangat,” ucap Mama Linda lembut sambil melirik putranya. Bram yang sedang menatap layar ponselnya mendongak sekilas. “Iya, nanti aku pesan, Ma,” jawabnya datar. Namun Mama Linda belum selesai. “Dan satu lagi, tolong sekalian belikan s**u dan camilan sehat untuk Alea. Dia kan menyusui Alan. Harus dijaga gizinya, supaya ASI-nya lancar. Dan, jangan sampai dia kelelahan mengurus Alan.” Kata-kata itu membuat Bram menegang seketika. Ia menatap mamanya dengan rahang mengeras, menahan komentar yang hampir keluar. Dalam hati ia menggerutu, “Kenapa Mama begitu memperhatikannya? Seolah Alea itu bagian dari keluarga ini lagi.” Tapi di hadapan semua orang, ia hanya bergumam pelan, “Iya, nanti sekalian aku suruh asistenku belikan.” Mama Linda tersenyum puas. “Bagus. Kamu itu kadang kalau nggak disuruh suka lupa.” Bram hanya mendengus pelan tanpa menanggapi. Ia segera berjalan ke arah jendela dan menekan nomor ponsel Rian, asistennya yang sudah lama bekerja dengannya sejak kuliah. “Rian, ke sini bawa makan malam untuk enam orang. Yang ringan-ringan saja, jangan terlalu berminyak. Dan belikan juga s**u rendah lemak, buah potong, sama camilan sehat untuk perempuan menyusui,” ucapnya cepat dengan nada tegas. Di seberang, suara Rian terdengar jelas, “Siap, Pak Bram. Saya segera ke sana.” “Kamu pakai sopir aja sekalian kalau ke sini,” tambah Bram sebelum menutup teleponnya. Sementara itu, Alea duduk di kursi dekat tempat tidur bayi. Ia menatap wajah Alan yang tidur pulas, pipinya sedikit kemerahan karena demam. Setiap tarikan napas kecil bayi itu seperti menggetarkan hati Alea. Ia menepuk-nepuk lembut d**a Alan dengan kasih sayang, seolah-olah bayi itu adalah darah dagingnya sendiri. Mama Linda memperhatikan dengan tatapan hangat. “Lihat, Bu Laksmi ... anak ini punya tangan yang lembut sekali. Alan bisa langsung tenang kalau sama dia,” katanya dengan nada kagum. Bude Laksmi tersenyum, “Memang dari dulu Alea penyayang anak-anak, Bu Linda. Nggak heran kalau anak kecil nyaman di dekatnya.” Sementara dua wanita itu berbincang, Bram hanya diam. Ia menatap Alea dalam diam, dan tanpa ia sadari, sesuatu dalam dirinya bergolak aneh. Bayangan masa lalu muncul—wajah Alea yang dulu tersenyum lembut padanya saat mereka baru menikah, tangan yang sama yang dulu pernah membelai rambutnya setiap pagi. Sekarang tangan itu justru membelai anaknya dari wanita lain. Ia mengalihkan pandangan cepat-cepat, mencoba menepis rasa yang tidak ingin ia akui. Satu jam berlalu, hingga akhirnya terdengar ketukan pelan di pintu. “Masuk,” ucap Bram datar. Pintu terbuka, menampakkan sosok Rian bersama sopirnya membawa dua kantong besar berisi makanan dan minuman. Aroma nasi hangat, ayam kukus, sop daging, langsung memenuhi ruangan yang sebelumnya dipenuhi aroma antiseptik. Namun langkah Rian mendadak terhenti begitu matanya menangkap sosok Alea yang sedang berdiri di sisi ranjang bayi. Wajahnya sontak berubah kaku, napasnya seperti tertahan. Ia mengenali perempuan itu dengan jelas. Alea .... Salah satu saksi pernikahan Bram—ia ingat jelas wajah itu. Wajah yang dulu tersenyum gugup di depan penghulu, lalu meneteskan air mata bahagia saat mengucap akad. Bram yang sadar akan tatapan Rian, segera melirik tajam ke arahnya dan mengedipkan mata cepat, memberi isyarat agar Rian tidak buka mulut. “Taruh aja di meja, Rian,” katanya dengan nada tegas, sedikit meninggi. Rian menelan ludah, lalu mematuhi perintahnya. “Iya, Pak,” sahutnya cepat, berusaha menyembunyikan kegugupan. Alea sempat melirik sekilas ke arah Rian, lalu mendengus pelan sambil berucap dalam hati, “Jadi kamu masih pakai orang yang dulu tahu semuanya, ya, Mas Bram.” Ia lalu berpura-pura tidak mengenal, kembali sibuk menata bantal kecil di sisi bayi. Eka yang sejak tadi membantu membereskan perlengkapan bayi segera menghampiri meja, membuka kantong satu per satu. “Wah, makanannya banyak banget. Nih, Tante Linda, ini nasi dan ayamnya. Terus yang ini buat Mas Bram,” ucapnya ceria. Ia dengan cekatan menata mangkuk, sendok, dan tisu di atas meja lipat kecil yang biasanya digunakan untuk makan pasien. Mama Linda tersenyum puas. “Terima kasih, Nak Eka. Kamu memang cepat tanggap, ya.” Bram hanya duduk di kursi pojok, memandangi semua gerakan dengan diam. Tapi matanya sesekali mencuri pandang ke arah Alea yang kini duduk menenangkan diri, memperhatikan bayi di sisi ranjang. Eka mengambil piring kecil, lalu menyodorkannya pada Bram. “Mas Bram, makan dulu. Nanti keburu dingin.” Suaranya lembut, hampir manja. Alea memperhatikan pemandangan itu diam-diam. Senyum samar muncul di sudut bibirnya. Ia bukan iri, bukan pula cemburu—hanya merasa aneh. Wajah Bram yang dingin dan nyaris tanpa ekspresi itu tetap punya daya magnet luar biasa bagi perempuan mana pun. Ada sesuatu yang memikat di balik ketegasan dan kesombongannya. “Ya, wajar saja kalau banyak perempuan ingin menarik perhatiannya,” batinnya getir. Tapi kemudian senyum itu lenyap, berganti guratan dingin di wajahnya. “Tapi tidak untukku. Tidak lagi.” Mama Linda menyadari perubahan suasana di ruangan itu. Ia berdeham kecil. “Alea, ayo makan juga, Nak. Kamu harus isi tenaga. Ibu udah suruh Bram belikan s**u dan buah juga.” Alea menatapnya sopan. “Terima kasih, Bu. Nanti saya makan, kalau Alan sudah benar-benar tenang.” “Sekarang juga nggak apa-apa, Alea. Dia udah tidur nyenyak kok,” bujuk Mama Linda. Alea akhirnya berdiri perlahan, menghampiri meja makan. Ia mengambil sedikit sup bening dan nasi hangat, duduk di kursi paling ujung. Bram memperhatikan dari kejauhan, lalu meneguk air mineral di depannya. Ia masih bisa merasakan tatapan Rian yang sesekali melirik ke arahnya, seolah ingin memastikan dirinya tidak salah lihat. “Rian, kamu bisa pulang dulu,” kata Bram tiba-tiba. “Besok pagi ke sini lagi jam tujuh, bawakan sarapan pagi.” Rian menunduk cepat. “Baik, Pak.” Sebelum pergi, ia sempat melirik sekilas ke arah Alea yang menunduk diam, lalu menatap Bram sekali lagi dengan pandangan penuh arti. Setelah itu, ia melangkah keluar. Suasana kembali hening. Hanya suara sendok beradu pelan dengan mangkuk dan dengung lembut mesin pendingin ruangan yang menemani malam itu. Bude Laksmi perlahan bersandar di kursinya, menatap semua yang ada di ruangan itu dengan tatapan lelah. Ia tahu, di balik diamnya masing-masing, ada masalah yang berputar. Mama Linda sesekali menatap Bram dan Alea bergantian. Wajah putranya kaku, sementara wajah Alea tenang tapi jelas menahan banyak hal. “Seandainya saja kalian berdua bisa bicara dari hati ke hati, terutama kamu, Bram, mau legowo menerima Alea jadi ibu s**u anakmu,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Namun ucapan itu sempat terdengar oleh Bram. Rahangnya menegang, sementara Alea hanya menatap bayangan dirinya di kaca jendela. Dalam pantulan itu, ia bisa melihat Bram berdiri di belakangnya—dengan mata yang sama seperti dulu, tapi kini tak lagi menatap dengan cinta. Di luar, hujan mulai turun perlahan, mengetuk jendela kaca dengan irama lembut. Di dalam ruang rawat, dua jiwa yang dulu pernah menyatu kini kembali berdiri di tempat yang sama, tapi hati mereka—masih berjauhan sejauh langit dan bumi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN