Ruang rawat bayi itu kini terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa menit lalu. Lampu-lampu berwarna putih lembut memantulkan cahaya hangat ke dinding krem, dan aroma khas antiseptik bercampur lembut dengan wangi bedak bayi yang samar. Baby Alan terlelap di pelukan Alea setelah disusui. Nafas kecilnya teratur, sesekali terdengar desisan pelan saat bayi mungil itu menyesuaikan posisi di pangkuan.
Alea menatap wajah polos baby Alan yang kini kembali damai, matanya redup menahan emosi yang datang tanpa diundang. Ia tahu betul rasa yang tumbuh di d**a ini berbahaya—karena bayi yang ia peluk bukan anaknya, melainkan anak dari pria yang telah menghancurkan hidupnya. Namun, naluri keibuan selalu lebih kuat dari logika. Tangannya yang lembut menyeka sisa noda ASI di sekitar bibir Alan dengan tisu bayi, lalu menepuk-nepuk lembut pipi mungil itu.
“Sudah kenyang ya, Sayang? Sekarang tidur lagi, biar cepat sembuh,” gumamnya lirih.
Dengan hati-hati, Alea memindahkan Alan ke dalam ranjang bayi yang berada di sisi kanan ruangan. Gerakannya pelan dan teratur, memastikan tidak ada kain yang menghalangi pernapasan bayi itu. Ia menarik selimut bergambar awan hingga setinggi d**a Alan, kemudian menatap wajah mungil itu sekali lagi sebelum melangkah mundur.
Mama Linda yang sedari tadi memperhatikan dari kursi di dekat meja buah, menghela napas lega. “Alhamdulillah ... akhirnya tenang juga cucu Mama,” ucapnya dengan nada haru.
Bude Laksmi tersenyum kecil. “Dari tadi nangis nggak berhenti, tapi begitu sama Alea langsung diam,” ujarnya dengan bangga pada keponakannya.
Bram hanya diam berdiri di dekat jendela, kedua tangannya terselip di saku celana, menatap kosong keluar seolah pemandangan kota sore itu lebih menarik daripada kenyataan di depannya.
Suasana sempat hening beberapa saat sebelum pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang dokter anak, pria paruh baya berjas putih dengan stetoskop melingkar di leher, melangkah masuk diikuti oleh seorang perawat yang membawa troli kecil berisi perlengkapan medis.
“Selamat sore, semuanya,” sapa dokter itu ramah. “Saya dr. Raditya, yang menangani Alan sejak tadi pagi.”
Mama Linda segera berdiri. “Dok, cucu saya baru saja tenang setelah disusui. Tapi tadi sempat panasnya naik lagi.”
Dokter mengangguk pelan. “Ya, saya sudah dapat laporan dari perawat jaga. Mari kita cek dulu, ya."
Ia mendekat ke ranjang bayi, menepuk lembut selimut sebelum menyentuh dahi mungil Alan. Wajahnya tampak serius saat menatap angka di termometer digital.
“Masih agak tinggi, 38,5. Tidak separah tadi pagi, tapi tetap perlu dipantau. Tubuh bayi sensitif, apalagi kalau kekurangan cairan,” ujarnya tenang sambil mencatat di lembar rekam medis.
“Dok, jadi gimana?” tanya Mama Linda khawatir.
“Suhu tubuhnya bisa turun pelan-pelan, Bu. Selain obat penurun panas yang sudah saya resepkan, bayi seperti Alan sebaiknya sering disusui. ASI mengandung antibodi alami yang sangat membantu melawan infeksi. Kalau dia mau menyusu dengan baik, itu tanda bagus. Tapi pastikan juga ia tidak dehidrasi—perhatikan popoknya, harus tetap sering-sering diganti kalau sudah basah.”
Mama Linda menatap Bram yang masih bersandar di jendela. “Kamu dengar, kan, Bram?” Nada suaranya tegas. “Kalau kamu memang sayang sama anakmu, tolong ikuti nasihat dokter. Jangan cuma diam seperti patung begitu.”
Bram menoleh sekilas, wajahnya datar tanpa ekspresi. “Aku dengar, Ma,” jawabnya pendek.
Alea menunduk, berpura-pura sibuk membenahi kain bedong Alan. Ia tidak ingin terlibat. Tapi di dalam hatinya, setiap kalimat dokter tadi bergema kuat. Ia tahu, tanpa ASI, bayi sekecil Alan bisa kehilangan tenaga dengan cepat.
Setelah memastikan semuanya stabil, dr. Raditya tersenyum. “Baik, Bu, nanti kalau ada perubahan suhu mendadak, tekan bel perawat, ya. Saya akan visit lagi pagi besok."
“Terima kasih banyak, Dok,” jawab Mama Linda tulus.
Dokter itu lalu pamit keluar bersama perawatnya. Pintu menutup perlahan, meninggalkan kembali keheningan di ruang rawat yang kini hanya berisi mereka berlima.
Mama Linda duduk kembali, menatap putranya lekat. “Bram, Mama mau tanya. Sebenarnya kamu ini maunya apa?”
Bram menegakkan tubuhnya. “Maksud Mama?”
“Bu Laksmi tadi bilang kamu mau pikir-pikir dulu soal Alea jadi ibu s**u Alan. Sekarang, Mama tanya, kalau bukan Alea, kamu mau cari siapa lagi? Anakmu butuh ASI, bukan cuma obat. Apa kamu mau tunggu sampai besok, atau sampai Alan makin lemah?”
Bude Laksmi menimpali dengan nada lembut, “Iya, Bram. Kamu kan tahu sendiri, Alan langsung tenang di pelukan Alea. Kalau dicoba dengan orang lain belum tentu cocok. Anak kecil punya ikatan batin sendiri.”
Eka yang sejak tadi diam, ikut mengangguk. “Aku juga lihat sendiri, Mas. Dari tadi udah dicoba kasih dot, tapi Alan malah makin rewel.”
Bram mengembuskan napas panjang, seolah mencoba menenangkan bara emosi yang membakar dadanya. Pandangannya mengarah ke Alea yang kini duduk di kursi pojok, menatap layar ponsel tanpa ekspresi. Wajah itu tetap cantik, tapi tatapannya sudah berbeda—dingin, keras, tidak lagi lembut seperti dulu.
Ia ingin menolak, tapi suara tangisan Alan beberapa jam lalu masih terngiang di telinganya. Hatinya seperti tertarik antara gengsi dan rasa bersalah.
“Terserah Mama saja,” ujarnya akhirnya, suaranya pelan tapi tegas.
Alea mengangkat kepala pelan, menatapnya dengan senyum miring. “Kalau boleh saya sampaikan, Bu Linda, jangan memaksa Pak Bram untuk setuju. Beliau ayah dari Alan, tentu beliau yang lebih berhak memutuskan siapa yang akan mengurus anaknya,” ucapnya datar, tapi terdengar seperti sindiran halus.
Mama Linda menoleh padanya, ekspresi wajahnya berubah lembut. “Alea ... Ibu paham kamu mungkin nggak ingin terlibat lebih jauh. Tapi Ibu mohon, tolong bantu cucu Ibu ini dulu, ya? Anak sekecil itu nggak punya salah apa-apa.”
Alea menunduk, gigit bibirnya menahan gejolak dalam hati. Kata-kata itu terasa menyayat, seperti mengingatkannya pada kehilangan yang belum benar-benar pulih.
Mama Linda melangkah mendekat, lalu duduk di hadapan Alea. Tatapan matanya penuh iba dan kasih. “Ibu juga turut berduka atas kepergian bayimu, Alea. Waktu itu Ibu nggak tahu kalau kamu mengalami hal seberat itu.”
Alea menatap wanita paruh baya itu, matanya berkaca-kaca. Tidak ada yang pernah mengucapkan belasungkawa padanya dengan ketulusan seperti ini. “Terima kasih, Bu,” suaranya lirih, hampir tak terdengar.
Mama Linda mengusap lembut punggung tangan Alea. “Ibu senang bisa ketemu kamu lagi. Dunia ini memang sempit, ya. Waktu di Yogya, Ibu sudah merasa kamu wanita yang baik. Sekarang Ibu makin yakin.”
Suasana di ruangan mendadak begitu hangat, tapi di satu sisi juga menegang. Semua orang diam, membiarkan perasaan campur aduk melayang di udara.
Bram memalingkan wajah, menatap Alan di dalam ranjang bayi. Sesuatu di dadanya terasa menekan kuat. Ia tidak tahu apa—marah, sesal, atau rindu yang tiba-tiba menyeruak tanpa izin.
Alea menghapus cepat air mata yang sempat menitik. “Baiklah, Bu Linda. Saya akan bantu jaga Alan. Tapi tolong, jangan memaksa saya untuk tinggal di mansion Pak Bram. Saya bisa tetap datang ke sini kapan pun dibutuhkan.”
Mama Linda tampak berpikir sejenak, lalu menatap putranya. “Bagaimana, Bram?”
Pria itu tak langsung menjawab. Hanya diam beberapa detik, lalu berkata lirih, “Terserah Mama.”
Nada suaranya dingin, tapi pandangannya tak lepas dari Alea. Ia tahu, dalam setiap sindiran Alea tadi, ada luka yang belum sembuh—luka yang ia sendiri yang buat.
Bude Laksmi menghela napas panjang, mencoba memecah ketegangan. “Yang penting sekarang Alan tenang dulu. Soal tempat nanti bisa dibicarakan lagi.”
Eka mengangguk setuju, sementara Mama Linda kembali menatap cucunya yang sudah lelap. “Lihat tuh, tidurnya damai sekali. Terima kasih, Alea. Ibu benar-benar berterima kasih.”
Alea tersenyum kecil, meski senyum itu terasa pahit. “Sama-sama, Bu.”
Hening kembali mengisi ruangan, hanya suara lembut dari mesin pendingin ruangan. Bram menatap punggung Alea yang membelakangi mereka, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa kehilangan kata. Di matanya, Alea bukan lagi wanita penurut yang pernah ia tinggalkan tanpa penjelasan, tapi seseorang yang berdiri tegak di antara luka dan harga dirinya sendiri.
Dan di tengah keheningan itu, tangisan kecil Alan tiba-tiba terdengar lagi—pelan, tapi cukup membuat semua kepala menoleh. Alea refleks melangkah cepat ke arah ranjang bayi, sedangkan Bram, tanpa sadar, ikut mendekat di sisi berlawanan.
Untuk sesaat, tangan mereka hampir bersentuhan di atas tubuh mungil itu. Dua hati yang dulu pernah menyatu kini berdiri di sisi yang sama, menatap bayi kecil yang menjadi penghubung masa lalu dan masa kini mereka.
Namun, tak ada kata yang keluar. Hanya tatapan—penuh luka, penuh makna, dan entah kenapa, penuh kemungkinan yang belum selesai.