Bab 3. Jangan Bicara Tentang Hati Nurani!

1170 Kata
“Aku bilang cukup, Alea!” Tatapan mata elang milik Bram begitu tajam bak belati yang siap menghunus lawan bicaranya. Alea menatap tangan yang kembali dicekal oleh mantan suaminya hingga tubuhnya condong ke depan, bersentuhan dengan tepi meja. “Kalau begitu lepaskan tangan Anda dari tanganku jika memang dirasa sudah cukup! Anda tidak mau kan kalau aku berteriak di tempat yang seramai ini, Pak Bram,” ancamnya dengan sudut bibirnya melengkung tipis. Emosi Bram berhasil dipermainkan oleh wanita yang dulu begitu penurut dan sangat mencintainya. Namun, hari itu berbeda ceritanya. Luka yang sudah ditorehkan oleh pria itu membangkitkan sisi Alea yang berbeda di balik kerapuhannya. Cekalan tangan Bram mulai mengendur, tapi tidak dengan sorot matanya yang masih sama. Alea mengusap tangannya yang memerah dengan suaranya yang terkekeh pelan. Tak lama kemudian suara dering ponsel berbunyi. Ia bisa pastikan suara itu bukan milik ponselnya. “Halo, Ma.” Bram menerima panggilan telepon dari mamanya. “Bram sekarang kamu ada di mana? Mama baru saja sampai di ruangnya Alan. Ini Alan rewel, badannya semakin panas. Tadi ibu mertuamu cerita ada keponakannya yang nyusui anakmu. Kamu bisa cari dia, tadi Eka udah cari-cari tidak ketemu, ponselnya tidak bisa dihubungi. Kasihan anakmu ini ... kamu mau anakmu tambah parah sakitnya?” kata Mama Linda dibalik panggilan teleponnya. Bram tidak langsung menjawab, ia justru menatap wanita yang ada di hadapannya. “Bram, kamu dengar Mama, kan?” tanyanya dengan nada kesal. “Iya Ma, aku dengar.” “Kalau dengar, cepat cari keponakan ibu mertuamu itu. Kamu dengarkan suara anakmu ini!” pinta Mama Linda, terdengar tidak sabar. Dan, Bram pun bisa mendengar jelas suara tangisan baby Alan walau hanya dari telepon. Begitu juga dengan Alea samar-samar mendengarnya. Ia menarik napasnya dalam-dalam. “Ya, akan aku cari, Ma.” Suaranya begitu dingin, lalu ia memutuskan panggilan teleponnya. Alea meletakkan cup ice chocolatenya ke atas meja. Kemudian menatap pria itu dengan lirikan sinisnya. “Sudah tidak ada pembicaraan lagi, kan? Kalau sudah tidak ada, aku mau pergi.” “Mau ke mana?” “Bukan urusan Anda!” “Ikut denganku.” Mata Alea membulat. “A-Apa? Ikut denganmu? Jangan seenaknya kasih perintah. Memangnya Anda itu siapanya aku!” Nada suaranya sarkastik, tapi nada suara masih di bawah kendali. “Anakku rewel, badannya panas lagi.” “Lah, kan, anakmu bukan anakku. Apa sangkutannya denganku,” celetuknya. Andai Bram tahu hati Alea teriris kembali saat Bram sebut kata ‘anakku’ ada rasa sakit yang begitu perih dibalut rasa cemburu yang datang begitu saja. Ia pun punya anak, anak dari Bram, tapi bayi itu tak bisa ia miliki. Rahang Bram mengeras, tangan kirinya terkepal kuat menahan emosinya untuk tidak meledak-ledak. Alea beranjak dari duduknya, Bram turut beranjak dari duduknya, dan lagi-lagi tangan Bram mencekal tangan Alea. “Kita kembali ke ruang rawat,” ujarnya pelan, tapi tidak seirama dengan gerakan tangannya yang memaksa. “Oh, jadi Anda butuh bantuanku sekarang?” ejeknya. Pria itu menoleh, lirikan matanya begitu dingin. “Bukankah Anda mau cari ibu s**u yang lainnya? Kenapa harus aku yang ikut denganmu. Anda kan orang kaya, pasti sangat mudah mencarinya. Tinggal keluarin uangnya, pasti banyak yang bersedia.” Alea kembali menyindirnya dengan senyum sinisnya. Cekalan tangan Bram semakin kuat sehingga langkah kakinya agak terhuyung mengikuti langkah besar pria tersebut. Untungnya saja rasa sakit di bagian intim habis melahirkan sudah tidak terlalu sakit. “Tutup mulutmu!” Alea tersenyum sinis. “Mulut fungsinya untuk berbicara dan makan, Pak Bram. Anda tidak berhak melarang—akh!” Tubuh Alea tersentak bersandar ke dinding saat mereka masuk ke dalam lift. Bram memanfaatkan situasi yang sepi di sana dengan memojokkan Alea. “Apakah hatimu tidak memiliki hati nurani?” tanyanya. Alea mendongakkan wajahnya, tatapan mata mereka saling beradu. Kalau dulu Alea bisa melihat tatapan Bram penuh kasih sayang padanya, kini sangat jauh berbeda. Tatapannya begitu dingin tak tersentuh. “Kalau Anda bertanya tentang hatiku, lalu bagaimana dengan Anda sendiri? Punya kah hati nurani ... hmm?” Rahang Bram terkatup, tidak bisa menjawab hingga pintu lift terbuka di lantai lima. Bram langsung menarik diri saat ada berapa orang masuk ke dalam, sedangkan mereka harus ke luar. “Alea!” Begitu keluar dari lift sudah ada Eka yang memanggilnya. Alea tersenyum kecut, sedangkan Bram terlihat biasa saja ketika Eka menghampiri mereka. “Alea, kamu katanya ke toilet? Tapi aku cari-cari nggak ada. Ibu cariin kamu, Alan rewel lagi,” keluh Eka sembari menyentuh pundaknya. “Dia ada di coffe shop, waktu aku cari,” sahut Bram dengan santainya. Alea berdecak kesal. “Masih sempat-sempatnya dia berbohong,” batinnya. “Oh, ya udah kalau begitu kita langsung ke kamar aja,” ajak Eka tanpa curiga apa pun pada adik sepupunya. Dan, begitu buka pintu suara tangisan baby Alan masih terdengar, begitu menyayat hati siapa pun. Alea langsung menghampiri wanita paruh baya yang begitu anggun penampilan sedang menimang baby Alan. “Dede kenapa, Sayang? Ini Tante datang,” ujar Alea begitu lembut. Wanita paruh baya itu langsung menoleh, matanya mengerjap berulang kali saat menatap Alea. Begitu juga dengan Alea. “Alea?” “Bu Linda?” Mereka berdua sama-sama terkejut, terutama Alea. “Bu Linda, kenal dengan keponakan saya?” tanya Bude Laksmi bingung. Mama Linda tersenyum hangat, apalagi saat Alea mengecup takzim punggung tangannya. “Oh, jadi Alea keponakan Bu Laksmi? Kebetulan saya pernah bertemu beberapa bulan yang lalu di Yogyakarta saat liburan sama teman-teman, dia yang menolong saya saat hampir saja kepleset di tangga. Dia juga yang bawa saya ke rumah sakit,” jawabnya penuh rasa kagum. Bram tertegun mendengarnya. "Mama sudah pernah bertemu dengan Alea." “Jadi ... Bu Linda, mamanya Mas Bram,” batin Alea kembali dibuat terkejut. Miris bukan, saat pernikahan ia dengan Bram, tidak ada kehadiran Mama Linda, tapi ada orang lain yang mengaku sebagai saudara Bram, dan mengatakan kedua orang tuanya sudah lama meninggal. “Hebat sekali kamu, Mas. Kamu bahkan memalsukan siapa kedua orang tuamu.” “Bu, boleh dedenya saya gendong. Kasihan suaranya mulai hilang,” pinta Alea pelan. “Eh, iya.” Mama Linda memberikan baby Alan dengan hati-hati pada Alea. Alea menarik diri dari sisi Mama Linda dan Bude Laksmi. Ia memilih ke sudut ruangan dekat jendela. Tangisan baby Alan perlahan-lahan mulai hilang, apalagi saat Alea membawanya duduk di pangkuan dan mulai menyusuinya. “Dede haus ya, makanya nangis terus. Maafin Tante agak lama ke sininya,” kata Alea lembut seakan mengajak bayi kecil itu berbicara. Mama Linda tertegun melihat cucu pertamanya langsung tenang di pangkuan wanita itu. “Bu Linda lihat sendiri, kan? Cucu kita langsung tenang sama keponakan saya. Tapi, Bram sepertinya tidak berkenan kalau Alea jadi ibu susunya Alan,” ujar Bude Laksmi pelan sembari menatap menantunya. Mama Linda menoleh, matanya agak menyipit menatap putranya seakan butuh penjelasan. “Bukan seperti itu maksudnya, Ma. Aku mau membicarakan terlebih dahulu sama Mama sebelum memutuskan. Karena, mau bagaimana pun Alea akan tinggal di mansionku. Dia akan mengurus Alan, walau nanti tetap ada baby sitter. Kalau Mama tidak menyetujuinya, aku akan cari yang lain.” Bram kelihatan gelagapan. “Mama setuju!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN