Tangisan baby Alan semakin keras, menggema di seluruh ruang rawat. Suaranya menusuk dan mengguncang setiap hati yang ada di ruangan itu. Mama Linda segera menghampiri ranjang bayi, lalu dengan gerakan hati-hati mengangkat cucunya. “Sayang ... iya, iya, tenang, Nak ... ssst ... jangan nangis ya,” gumamnya lembut sambil menimang-nimang tubuh mungil itu. Tapi, tangisan Alan tak juga reda. Tubuh kecil itu menendang-nendang, kedua tangannya mengepal seolah mencari sesuatu yang hilang. Alea berdiri kaku di tempat. Dadanya sesak mendengar tangisan itu. Setiap suara tangis seolah menarik sesuatu yang dalam dari hatinya. Tangannya hampir bergerak—hampir saja ia melangkah untuk mengambil bayi itu dari pelukan Mama Linda. Tapi, sebelum kakinya benar-benar bergerak, pikirannya menahannya. Jangan, A

