Udara dingin dari pendingin ruangan menyeruak keluar dari celah pintu lift yang terbuka. Alea melangkah masuk tanpa menoleh, membiarkan suara berat di belakangnya hanya menjadi gema samar di telinganya. “Alea.” Nama itu dipanggil lirih tapi dalam — nyaris seperti peringatan — namun ia tak menghiraukannya. Ia tetap berdiri tegak di sudut kiri lift, menatap angka digital yang menurun perlahan di atas pintu. Bram akhirnya masuk juga. Tak ada pilihan lain. Tapi mereka tidak sendirian. Dua perawat dan seorang pria tua ikut berada di dalam. Bau antiseptik dan aroma obat-obatan khas rumah sakit bercampur dengan wangi parfum halus yang selalu menempel di tubuh Bram. Ia berdiri tepat di belakang Alea, jarak mereka hanya sehelai napas. Alea bisa merasakan kehadiran itu—dingin, tegang, tapi juga a

