Udara dalam kabin taksi terasa pengap meski pendingin menyala. Alea duduk di kursi belakang, diam, matanya menatap kosong pada bayangan dirinya di kaca jendela yang berembun halus. Tangannya masih gemetar, memegang ponsel yang kini terasa berat seperti batu. Sopir taksi, pria paruh baya dengan wajah ramah, menoleh sekilas lewat kaca spion. “Permisi, Mbak … mau ke mana?” tanyanya sopan. Alea tak langsung menjawab. Napasnya panjang dan pelan, seolah baru saja keluar dari pertempuran yang melelahkan. “Bandara,” katanya akhirnya, suaranya datar namun serak. Sopir itu mengangguk. “Bandara Soekarno-Hatta, ya?” Alea menatap jalanan di depan, lampu-lampu toko yang berlari mundur di matanya. “Ya Pak,” jawabnya pelan. Awalnya ia berencana pulang ke Yogyakarta dengan kereta—naik dari Stasiun G

