Suara ketukan pelan terdengar di pintu kamar. Alea yang masih duduk di tepi ranjang menoleh pelan. Raut wajahnya lelah, matanya bengkak bekas tangis, namun begitu pintu terbuka, senyum kecil berusaha ia munculkan. “Lea.” Suara lembut itu terdengar hangat. Bu Shinta melangkah masuk sambil membawa nampan berisi secangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis. Aroma melati dari teh itu segera memenuhi udara kamar yang sunyi. Alea bangkit pelan, mengambil cangkir itu dengan kedua tangan yang sedikit bergetar. “Terima kasih, Bu.” Bu Shinta duduk di kursi dekat ranjang, matanya menatap wajah putrinya dengan pandangan iba. “Kamu baru dua hari di Jakarta, kok tiba-tiba sudah pulang, Nak? Bukannya kamu mau bantu ngurus cucunya Bude Laksmi? Kenapa mendadak sekali?” Alea menunduk, meniup

