Suara tangisan bayi kembali menggema di kamar mewah itu. Tangisan yang melengking, memecah keheningan malam, menembus sampai ke d**a setiap orang yang mendengarnya. “Alan.” Mama Linda memanggil lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh isak tangis cucunya. Tubuh mungil itu menggeliat di pelukannya. Baru saja tangisnya mereda, kini gumoh lagi—lebih banyak, lebih panas. Bau asam s**u memenuhi udara kamar yang kini terasa sesak. “Ya Allah, Nak, jangan lagi.” Suara Mama Linda bergetar. Ia segera mengambil kain lembut, membersihkan mulut dan leher cucunya dengan tangan gemetar. Tapi belum sempat ia selesai, bayi itu menangis semakin keras. Air mata Mama Linda jatuh, membasahi pipi keriputnya yang letih. Bram berdiri kaku di dekat ranjang bayi, wajahnya tegang, pucat. Ia ingin membantu, tapi lang

