Jam dinding rumah sakit menunjukkan pukul dua dini hari. Lorong itu begitu lengang. Hanya suara langkah perawat dan dengungan mesin pendingin yang menemani malam panjang penuh kecemasan. Di sudut ruang tunggu, Mama Linda duduk dengan wajah sayu, menatap kosong ke arah kaca pembatas ruang NICU tempat cucu satu-satunya terbaring kecil di balik dinding transparan itu. Sementara Vina entah hilang ke mana sejak satu jam yang lalu, tanpa berpamitan dengan majikannya. Bibirnya bergetar, jemarinya yang renta terus memutar butiran tasbih kecil. “Ya Allah … lindungi cucuku. Jangan biarkan dia menanggung kesalahan orang tuanya,” gumannya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh detak mesin di balik kaca. Di sisi lain, Bram berdiri mematung. Matanya merah, bahunya kaku, dan wajahnya tampak semakin puc

