Tangisan baby Alan semakin menjadi-jadi. Suaranya menggema di seluruh lantai dua mansion Bramantyo, menembus pintu, menyentuh setiap hati yang mendengarnya. Nada tangisnya bukan sekadar rengekan bayi biasa — ada nada pilu, seperti keresahan yang tak bisa diungkapkan kata-kata. Mama Linda berusaha menenangkan cucunya dengan menimang-nimang pelan, langkah kakinya berputar di dalam kamar bayi yang hangat tapi kini terasa sesak oleh panik. “Ssstt … tenang ya, Nak. Oma di sini. Ayo, jangan nangis terus,” ucapnya lembut, tapi suaranya sedikit gemetar. Namun baby Alan terus menangis. Wajah mungilnya memerah, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya yang halus. “Bik Tuti!” seru Mama Linda sambil mengayun bayi di pelukannya, “Cepat panggil Vina! Suruh dia naik sekarang juga!” “Baik, Bu!” sahu

