Menjelang siang, cahaya matahari yang menerobos dari jendela besar lantai enam membuat ruangan VIP itu terasa sedikit lebih hangat. Namun suasana batin di dalamnya tetap saja dingin—dingin yang berasal dari kelelahan, kecemasan, dan emosi yang tidak pernah benar-benar reda sejak malam. Alea masih memangku Alan. Matanya berat, kulit bawah matanya tampak lebih pucat daripada pagi tadi. Ia duduk di kursi menyusui tanpa banyak bergerak, tubuhnya yang kecil tampak seolah menyangga seluruh dunia. Bram berdiri di dekat ranjang pasien dewasa yang kosong. Sesekali ia mengamati napas Alan, sesekali ia melirik Alea dengan rasa bersalah yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia ingin mengambil alih, ingin berkata, “Istirahatlah, biar aku yang gendong.” Tetapi fakta bahwa baby Alan selalu menangis keras jik

