Pagi menjelang itu datang terlalu cepat bagi Alea. Cahaya matahari menerobos dari celah tirai jendela VIP lantai enam, menimbulkan garis-garis terang yang menyentuh lantai putih bersih ruangan. Suasana rumah sakit perlahan mulai hidup — suara trolley perawat lewat di koridor, denting lift membuka dan menutup, serta panggilan dokter melalui speaker bergema samar. Namun di ruang VIP itu, semuanya terasa lebih berat. Alea duduk di kursi menyusui, matanya setengah terpejam, kepala sedikit terangguk karena kantuk yang menumpuk semalaman. Baby Alan terlelap lekat di pangkuannya, pipinya menempel di lengan Alea. Sejak jam dua dini hari hingga matahari naik, bayi itu menolak keras jika diletakkan di ranjangnya. Ia rewel, menjerit, menggeliat, bahkan menangis sampai wajahnya memerah — hingga akhi

