Lorong lantai dua mansion itu terasa sangat sunyi ketika Alea memasuki kamar baby Alan. Suara langkahnya tenggelam oleh karpet tebal yang membalut seluruh lantai. Dari kaca jendela besar, lampu-lampu taman menyinari sebagian ruangan dengan cahaya keemasan. Ini pertama kalinya Alea benar-benar memperhatikan kamar itu—kamar yang dibangun untuk anak orang yang ia cintai, namun bukan untuknya. Kamar itu mewah—terlalu mewah. Dindingnya berlapis wallpaper pastel dengan motif halus, tirai panjang menjuntai sampai lantai, dan sebuah boks bayi putih dengan ukiran elegan berdiri di sisi kiri ruangan. Di sampingnya, ada sebuah ranjang besar—ranjang tempat Alea akan tidur malam ini. Sendirian. Ia menutup pintu perlahan, lalu mengusap bibir baby Alan yang baru selesai menyusu sebelum ia dipanggil mak

