Cahaya siang menembus kaca besar di lorong ruang NICU, memantulkan kilau perak di lantai licin. Suara “beep-beep” dari mesin monitor masih menggema dari balik kaca, makin lama makin cepat. Para perawat mulai berlarian kecil, sebagian membawa troli kecil berisi alat medis tambahan. Mama Linda menegakkan tubuh, wajahnya tegang. “Kenapa bunyinya makin cepat begitu?” Suaranya parau, penuh panik. Sementara Alea mematung di tempat. Pandangannya terpaku pada tubuh mungil baby Alan yang kini tampak lebih pucat di bawah sinar lampu putih terang. Napas kecil bayi itu tersengal. Suara alat pemantau detak jantung berdenting tidak beraturan. “Dok ... tolong izinkan saya masuk, saya mohon,” suara Alea pecah. “Saya takut kalau Alan—” Belum sempat ia melanjutkan, seorang perawat mengangkat tangan, ber

