Langkah mereka keluar dari toko bayi itu terasa lebih lambat dari saat masuk. Sarah tidak lagi seantusias sebelumnya, tapi bukan karena kecewa. Wajahnya justru lebih tenang, lebih dalam, seolah sesuatu baru saja berubah di dalam dirinya. Tangannya masih menggenggam tangan Javier, tapi kali ini tidak erat seperti takut ditinggal—lebih seperti memastikan ia tetap di sana. Mall tetap ramai, orang-orang berlalu lalang tanpa memperhatikan mereka. Lampu terang, suara langkah kaki, percakapan yang saling tumpang tindih. Semua biasa saja. Tapi bagi Sarah, dunia terasa sedikit berbeda setelah melihat semua barang kecil tadi. “Aku tadi hampir beli…” gumamnya pelan. Javier melirik. “Aku tahu.” Sarah tersenyum kecil. “Aku tahan…” “Iya.” “Aku hebat ya…” Javier menatapnya beberapa detik. Lalu

