Keheningan setelah panggilan itu terasa berbeda. Bukan lagi sunyi yang kosong, tapi sunyi yang menunggu sesuatu—menunggu seseorang. Sarah masih berada di pelukan Javier, tapi kali ini napasnya sudah lebih tenang. Air mata yang tadi sempat jatuh perlahan berhenti, hanya menyisakan jejak di pipinya yang belum sepenuhnya kering. Javier tidak banyak bergerak. Tangannya masih berada di punggung Sarah. Mengusap pelan. Ritmenya stabil. Seperti menenangkan sesuatu yang tidak perlu diucapkan. --- “Kamu benar-benar telepon dia…” gumam Sarah pelan. “Iya.” “Kamu tidak marah…” Javier tidak langsung menjawab. Beberapa detik. Lalu— “Aku capek kalau kamu menangis.” Jawaban itu jujur. Langsung. Dan Sarah— Tidak tersinggung. Ia justru tersenyum kecil. “Aku tidak akan nangis lagi…” Javier

