Mobil melaju membelah jalanan pagi di Manhattan dengan suasana yang jauh berbeda dibanding beberapa menit lalu. Tangisan Sarah sudah berhenti sepenuhnya. Kini wanita itu duduk tenang di kursi penumpang sambil memegang tangan Javier dengan kedua tangannya, seolah takut pria itu berubah pikiran dan memutar balik mobil menuju kantor. Sesekali Sarah melirik Javier. Lalu tersenyum kecil sendiri. Sementara Javier tetap fokus menyetir, walau jelas terlihat pikirannya belum benar-benar tenang. Meeting pagi itu terus muncul di kepalanya. Ponselnya bahkan beberapa kali bergetar di dashboard mobil, tanda bahwa seseorang dari kantor sedang mencoba menghubunginya. Namun Javier mengabaikannya. Sarah melihat ponsel itu. “Kantor ya…” “Iya.” “Kamu dimarahin…” Javier melirik sebentar. “Tidak ada y

