Sebastian mengisap cerutu perlahan di ruang tamu paviliun, membiarkan asap tebal melayang-layang di udara, membentuk bayangan samar di bawah cahaya lampu temaram. Hari ini terasa panjang. Ia berangkat sejak fajar, menemani Presiden dalam serangkaian rapat dan kunjungan, tanpa sempat menutup mata barang sejenak di siang hari. Namun, keluh kesah bukan sifatnya. Baginya, kesibukan itu adalah konsekuensi dari posisi yang ia pilih—menjadi orang kepercayaan sekaligus pendamping Presiden. Tugasnya sederhana namun berbahaya: menyampaikan pandangan, memberi saran, dan terkadang, membisikkan kecurigaan yang menurutnya layak dipertimbangkan. Ia tersenyum puas ketika mengingat bagaimana kata-katanya begitu diperhitungkan. Presiden bukan hanya mendengar, melainkan benar-benar menimbang pendapatnya seb

