Mereka duduk bersebelahan di sebuah kedai kopi. Alejandro lebih senang bicara di rumah, tapi Sofia menolak. Mengatakan ingin mengobrol di luar karena sudah lama tidak berkencan dengan Alejandro. “Tadinya aku berharap kamu menelepon untuk mengajakku ke bioskop atau dinner. Ternyata hanya bicara sambil ngopi. Nggak masalah, sih. Asalkan sama kamu.” Sofia mengaduk kopinya, menambahkan sedikit creamer dan gula. Espresso di kedai ini rasanya terlalu pahit untuknya. Di depannya, Alejandro asyik menyeruput es americano. Sofia mendesah, menyadari betapa tampan dan gagah kekasihnya. Tidak dapat dipungkiri, daya tahan Alejandro sangat besar. Setiap perempuan yang masuk ke kedai, akan menatap Alejandro dua kali lebih lama dari pada biasa. “Aku lihat lapangan sudah mulai digunakan. Apakah kamu meny

