Natalia berdiri lama di samping jendela dengan gorden yang sengaja dibiarkan terbuka. Dari balik kaca, ia bisa melihat bunga-bunga kecil di dalam pot yang seolah mencoba bertahan hidup di bawah terik matahari. Udara di luar pasti menyengat, tapi dinginnya pendingin ruangan membuat Natalia tak benar-benar merasakan panas itu. Justru hatinya yang terasa sesak, seakan terkurung bersama tubuhnya di dalam kamar yang sunyi. Sudah berhari-hari ia mengurung diri, hanya ditemani ponsel dan pikiran yang tak pernah berhenti berputar. Setiap kali membaca berita tentang papanya, dadanya serasa diremas, hingga tekanan di perutnya ikut meningkat. Ia merindukan sosok ayahnya, merindukan pelukan yang dulu membuatnya merasa aman. Namun kini, yang tersisa hanya hinaan dan cemooh dari media. Nama Sebastian

