Baru juga satu kaki Ayuna turun menginjak marmer mahal tempat dirinya berpijak, namun pekikan girang dari dua wanita yang berdiri tidak jauh darinya membuat hati Ayuna lagi-lagi bergemuruh hebat. “Ya Tuhan … Elan Devanaka Alastair … Akhirnya membawa calon istri dalam acara kali ini.” Tepuk tangan heboh itu disusul dengan pekikan bahagia mereka yang kini bahkan mendekat pada Elan dan Ayuna. Ayuna mengangguk sambil tersenyum sopan saat akhirnya berhadapan dengan para orang tua yang terlihat masih rupawan paripurna meski dimakan usia. Salah seorang dari mereka mendekat dan lebih maju, bahkan melepaskan genggaman tangan Elan dan Ayuna. Jantung Ayuna jangan ditanya, disko brutal di dalam sana. “Ya Tuhan … Akhirnya Mama bisa bertemu putri perempuan Mama.” Tau-tau tubuh Ayuna dideka

