Sejak lima belas menit lalu, lima belas menit menjelang pukul enam pagi. Geza sudah membuka jendela kamar hotelnya, duduk menghadap ke arah jendela dengan teropong di tangannya. Terus memperhatikan setiap jendela-jendela di kamar rumah sakit yang pelan-pelan terbuka semuanya. Hingga teropongnya berhenti pada satu titik, di mana seorang gadis tengah membuka jendelanya. Membuatnya tersenyum bahagia, lalu memfokuskan pandangannya pada seseorang yang kini berbaring di ranjang rumah sakit. “Selamat pagi, Azela. Aku yakin hari ini keadaanmu lebih baik dari kemarin. Aku yakin Tuhan memberikan banyak kebahagiaan untuk gadis yang baik hati sepertimu. Aku bahagia, akhirnya bisa kembali melihatmu lagi, La. Walapun dengan cara seperti ini. Tapi tidak apa-apa, yang penting aku tau kau masih a