*** Terengah-engah. "Cukup," Sein menjauhkan wajah Stefan dari dadanya. Ia berusaha untuk menciptakan jarak dengan pria itu, memungut handuk yang berserakan di lantai dan kembali menutupi tubuhnya yang telanjang. Sein menatap wajah Stefan yang tampak sayu. Ia menelan ludah dengan kasar, menggelengkan kepala pelan-pelan, berusaha mempertahankan kewarasannya. Sentuhan dan hisapan pada pucuk dadanya yang dilakukan oleh Stefan barusan membuat darahnya berdesir. Ia merinding, merasakan panas di sekujur tubuhnya, sementara jantungnya berdebar tak karuan. Di tengah perasaan yang campur aduk, Sein berusaha untuk tidak terpancing dan berbuat gegabah dengan larut dalam sentuhan pria itu. "Keluarlah, aku mau pakai baju sebentar. Tidak akan lama," ucapnya kepada Stefan seraya mengeratkan handuk d