Marcel mencengkram kedua tangan Indira, menahannya tepat di atas kepalanya. “Kamu sudah gila!” teriak Indira dengan kesal. “Gila?” Ulang Marcel. “Indy, kamu memang harus diberi pelajaran. Kamu bukan cuma berani nolak aku, bahkan kamu begitu berani minta cerai di hadapan para wartawan tadi.” “Lepasin Marcel! Kalau kamu udah nggak cinta lagi, kenapa kamu terus pertahankan aku? Bukankah lebih baik kalau kita berhenti saling menyakiti?” Marcel mendekatkan wajahnya ke leher Indira, mengecup ceruk tulang selangkanya. Ia dapat mendengar degup jantung Indira yang semakin cepat dan napasnya yang memburu. Ia meremas tangan Indira, sementara bibirnya terus mengecup di setiap sisi leher jenjangnya. “Hentikan Marcel,” pintanya. “Hentikan? Bibirmu bisa bohong, tapi tubuhmu … tidak bisa, Indira

