Indira mengusap cairan hangat yang memenuhi kelopak matanya dan membuat pandangannya kabur. Dan saat ia hendak melangkah menghampiri rumah itu, tatapannya tertuju pada sebuah bayangan tertutup kabut asap. Bayangan itu mendekat perlahan menuju ke arahnya. Lagi, Indira mengusap matanya. Jantungnya berdebar semakin cepat. Hatinya penuh harap bahwa sosok di depannya adalah lelaki penyelamatnya. Namun langkahnya justru terhenti. Tubuh itu roboh begitu saja sebelum Indira sempat mengenalinya. “Lucas …” desisnya, seolah berusaha meyakinkan diri bahwa orang yang diharapkannya ada di hadapannya. Ia kembali melangkah. Penuh harap mendekati bayangan itu. Langkah itu semakin cepat, seakan ingin segera menggenggam asanya. Dan … matanya membulat saat melihat lelaki itu benar-benar dia! “Lucas,

