Old Man

1519 Kata
“Sepertinya aku tahu harus kemana.” Mo Qing Shan buru-buru keluar dari istana. Dia menunggangi kudanya dan pergi menuju ke suatu tempat. Di Luoyang, ada sebuah toko buku tua yang telah berdiri selama kurang lebih setengah abad. Itu adalah toko buku tertua sekaligus toko buku yang sangat terkenal di Luoyang. Mo Qing Shan tentunya tahu tempat ini karena dia sendiri pada dasarnya juga gemar membaca buku. Ya walau pun buku yang dibacanya itu sedikit melenceng dengan jabatannya saat ini. Jadi mari lupakan tentang tuan muda Mo yang gemar membaca. Mo Qing Shan memarkirkan kudanya di depan toko buku itu sebelum akhirnya dia masuk ke dalam. “Permisi tuan, apa ada yang bisa saya bantu? Jenis buku apa yang tuan cari?” Seorang pemuda yang bekerja di toko buku itu datang menghampiri Mo Qing Shan. Mo Qing Shan masih mengenakan pakaian pejabat, jadi tentunya dia dikenali sebagai seorang aparatur negara. “Ehmm, itu, aku mencari buku sejarah. Ada sesuatu yang ingin aku ketahui. Tapi lebih daripada itu, bisakah aku bertemu dengan pemilik toko buku ini?” Pemuda pelayan toko buku itu mengerutkan alisnya, “pemilik toko?” “Ya,” Mo Qing Shan mengangguk dan berkata, “dia pastinya memiliki banyak pengalaman karena toko ini saja sudah berdiri cukup lama. Bukan kah begitu?” Pemuda pelayan toko itu terlihat ragu-ragu. “Itu mungkin saja benar. Tapi…” Mo Qing Shan menepuk pundak pemuda itu sembari menyelipkan uang ke dalam saku pakaiannya. Dia berbisik, “tolong bantu aku.” Pemuda itu mau tidak mau harus membantu Mo Qing Shan untuk bertemu dengan bosnya karena dia secara tidak langsung telah menerima uang itu. Pemuda itu berbisik. “Tunggu sebentar tuan muda, saya akan mencoba menanyakannya.” Mo Qing Shan mengangguk sementara pemuda itu pergi ke sebuah ruangan. Mo Qing Shan berdiri sembari melihat-lihat buku yang ada di sana. Dan saat waktu satu dupa hampir habis, pemuda pelayan toko itu kembali. “Tuan,” panggil pemuda pelayan toko. Wajah Mo Qing Shan dipenuhi semangat, “bagaimana? Dimana aku bisa menemuinya?” “Ini!” Pemuda itu kembali menyerahkan uang yang telah Mo Qing Shan berikan padanya. Ekspresinya penuh ketakutan saat dia berkata, “ambil uang tuan dan pergilah dari sini. Saya masih ingin bekerja di sini, saya tidak mau dipecat. Jadi saya mohon agar tuan pergi sekarang juga.” Mo Qing Shan, “….” Mo Qing Shan hanya bisa menghela napas saat dia keluar dari toko buku itu. Yang ingin dia tanyakan pada pemilik toko buku itu adalah apa yang sebenarnya di era pemerintahan sebelum Kaisar Chen. Mo Qing Shan juga ingin tahu kejelasan kasus besar itu. Sebenarnya dia bisa saja bertanya pada ayahnya, tapi Mo Qing Shan tidak menginginkan hal itu karena dia takut ayahnya akan berada dalam bahaya. “Satu-satunya orang yang tahu adalah ayah. Tapi aku tidak tega jika harus mengorek luka lamanya. Dan juga, rencana macam apa yang pernah Kaisar Chen rencanakan. Tapi apapun itu, aku tidak akan pernah membiarkan keluargaku menderita, tidak untuk kedua kalinya. Aku juga akan melindungi Liu Ru Shi.” Pikir Mo Qing Shan. Tatapan Mo Qing Shan mengarah ke toko buku itu, dia berkata, “aku akan kembali lagi. Aku pasti akan mendapatkan informasinya.” Di keesokan harinya, Mo Qing Shan kembali ke toko buku itu. Mulanya dia ingin pergi menemui ayahnya, tapi ayahnya, tuan Mo, tidak kembali ke Fu karena harus tinggal di pengadilan kekaisaran. Karena alasan yang sama pulalah Mo Qing Shan bisa keluar dari istana lebih cepat. Ya, Chen Wang juga hadir dalam pengadilan kekaisaran, jadi dia bisa dengan leluasa keluar dari istana. Entah apa yang sedang dibahas dalam pengadilan kekaisaran itu, tapi para pejabat tinggi tinggal disana untuk waktu yang lama. Mo Qing Shan kali ini tidak mengenakan pakaian pejabatnya. Dia bahkan telah merubah penampilannya sampai sulit untuk dikenali. Mo Qing Shan telah berubah menjadi seorang pemuda manis yang masih sangat muda. Ya, dia menyamar menjadi seorang pelajar. “Penyamaranku akan lebih masuk akal jika Mo Nian Zhen dan Xu Jia bergabung denganku.” Gumam Mo Qing Shan. Tanpa ragu dan dengan langkah mantap, Mo Qing Shan akhirnya masuk ke dalam toko buku itu. Toko buku tua itu tampak ramai dan ada banyak pelanggan yang datang. Mo Qing Shan berpikir dia akan sangat beruntung. “Tuan muda, apakah tuan muda mencari buku? Buku jenis apa? Biarkan saya membantu tuan muda?” Suara renyah ini sangat dikenali oleh Mo Qing Shan. Tapi apakah mungkin itu benar-benar dia? Mo Qing Shan berbalik untuk melihat sosok yang menyapanya itu. Dan benar saja, tebakan tuan muda Mo samasekali tidak meleset. Orang yang baru saja berbicara dengannya itu adalah pemuda tempo hari, pemuda yang menolak untuk membantunya karena takut dipecat. “Semoga saja dia tidak mengenaliku. Sial sekali aku ini!” Pikir Mo Qing Shan. Wajah tegang tuan muda Mo segera berseri-seri. Dia tersenyum manis dan cinnabar di sudut kiri bawah mata kirinya nampak sangat indah. Layaknya pemuda yang baru saja menginjak usia tujuh atau delapan belas, Mo Qing Shan berkata, “Xiao gege, aku mencari buku konfusius dan juga beberapa buku agama dengan pengajaran Buddha yang lengkap. Apakah ada?” Mo Qing Shan bisa merasakan dirinya yang menelan ludah. Bagaimana? Apakah pemuda itu mengenalinya? “Tentu saja ada. Tunggu sebentar, Xiao gege ini akan mencarikannya untukmu. Ah, kau bisa ikut aku. Ayo.” Ajak pemuda pelayan toko itu. Mo Qing Shan menggelengkan kepalanya, “ehm aku sepertinya harus ke kamar mandi dulu. Biarkan aku melihatnya setelah aku kembali dari kamar mandi. Dimana kamar mandinya?” Pemuda pelayan toko itu menunjuk ke sebuah arah, “di sana.” “Terima kasih.” Mo Qing Shan tersenyum sebelum akhirnya melenggak menuju ke arah yang ditunjukkan oleh pemuda itu. Di dalam kamar mandi, Mo Qing Shan tentunya tidak benar-benar sedang buang air kecil. Dalam sekejap dia sudah keluar dari kamar mandi dan pergi ke ruangan lain. Ingatan Mo Qing Shan sangatlah kuat, jadi dia masih ingat kemana pemuda pelayan toko buku itu masuk. “Ini dia.” Kata Mo Qing Shan sembari dengan perlahan membuka pintu. Saat pintu terbuka, Mo Qing Shan melihat seorang pria tua yang sangat cocok untuk menjadi kakeknya. Ya, pria itu jauh lebih tua dari ayahnya. “Nak, apakah kau mencari kamar mandi dan kau salah masuk ruangan?” Pria tua itu tidak marah, dia tersenyum sembari bertanya. Mo Qing Shan tampak sedikit terkejut dengan sikap ramah pak tua itu. Dia berdeham, maju selangkah lebih dekat dan tiba-tiba membungkuk untuk memberi hormat pada orang tua itu. Mo Qing Shan berkata, “tidak, saya tidak salah masuk.” “Kakek…ah maksud saya pak tua…astaga,” Mo Qing Shan memaki dirinya sendiri. “Tuan, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan pada tuan, itulah sebabnya saya datang kemari.” “Kau adalah orang yang kemarin kan?” Pak tua itu terlihat dingin. “Itu memang saya. Anda tahu itu adalah saya. Saya hanya ingin bertemu dengan anda karena saya ingin menanyakan sesuatu yang bahkan anda sendiri tidak tahu apa itu. Lalu kenapa anda menolak untuk bertemu saya?” Tanya Mo Qing Shan. “Aku bukanlah orang hebat, kenapa kau datang padaku? Tuan muda, sebaiknya kau pergi saja.” Orang tua itu terlihat sibuk dengan pekerjaannya, dia menjawab tapi matanya samasekali menolak untuk melihat Mo Qing Shan. Mo Qing Shan menyipitkan matanya yang indah saat dia bertanya, “apakah anda yakin jika itu adalah alasannya. Tuan Gu, anda adalah mantan menteri pendidikan di era pemerintahan mendiang Kaisar Chen Wei, saya harap saya tidak salah akan hal ini.” Pria tua itu terdiam, dia seperti patung yang terpahat di atas tanah, tidak bisa bergerak atau pun berbicara. “Tuan?” Mo Qing Shan memanggilnya. Pria tua itu menelan ludah, tangannya yang keriput langsung dingin. Namun walau pun demikian, pria tua itu masih menjaga ketenangannya. Dia bertanya, “apakah tuan muda ini yakin? Aku takut kau salah orang.” “Aku yakin aku tidak salah orang.” Mo Qing Shan tersenyum dengan percaya diri. Menteri pendidikan, tuan Gu? Siapa dia? Dan kenapa Mo Qing Shan bisa mengetahuinya? Di pagi hari tadi, saat Mo Qing Shan masih berada di istana, dia secara kebetulan pergi ke perpustakaan istana untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya. Dan di saat itu, dia secara tidak sengaja mendapati buku kecil yang terlihat seperti buku catatan. Ya, itu adalah buku usang nan tua yang telah ditulis oleh seseorang. “Aku yakin tuan Gu adalah seseorang yang rajin sampai-sampai kau sendiri lupa jika buku catatanmu ini tertinggal di istana. Kau adalah pejabat yang rajin, itu tidak heran karena tuanku adalah seorang menteri.” Mo Qing Shan meletakkan buku catatan kecil itu di atas meja sembari berkata, “selamat tuan Gu, anda berhasil menggapai cita-cita anda. Toko buku ini telah berkembang menjadi satu-satunya toko buku terbesar yang ada di Luoyang.” “Apa yang ingin tuan muda tanyakan?” Kata pria bernama Gu itu. Mo Qing Shan menangkupkan tangannya, “sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri saya terebih dahulu. Nama saya Mo Qing Shan.” “Kau memiliki nama keluarga Mo? Klan Mo yang mana?” Tanya pria tua itu lagi. “Klan Mo, Mo Jianyu. Ayah saya juga seorang pejabat tinggi di istana.” Jawab Mo Qing Shan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN