Saat pagi-pagi sekali, Chen Ai Lin sudah berada di Wangfu kakaknya, Chen Wang. Putri kekaisaran itu tengah merengek dan bergelantungan di lengan kokoh Chen Wang untuk memohon sesuatu.
"Ai Lin! Hentikan! Apakah kau anak-anak? Kenapa kau bersikap seperti ini?! Dan juga, siapa yang memberitahumu hal itu?!" Chen Wang terlihat sangat kesal, tapi dia masih tidak bisa melepaskan diri dari Chen Ai Lin yang menempel padanya seperti lintah.
Dan juga, apa diinginkan oleh Chen Ai Lin? Hal apa yang tidak seharusnya diketahuinya?
"Aku tidak bodoh!" Chen Ai Lin meraung, "aku tentu saja tahu sendiri!"
Chen Ai Lin datang ke Chen Wang untuk menyelamatkan Mo Qing Shan dari hukuman. Sejatinya gadis itu tidak tahu apapun jika saja Mo Nian Zhen tidak memberitahunya hal itu. Mo Nian Zhen? Ya, adik sepupu Mo Qing Shan yang sangat mencintai kakak sepupunya itu tahu jika Mo Qing Shan akam dihukum karena keteledorannya saat menangani kasus di Chang'an, jadi dia memberitahu Chen Ai Lin tentang hal ini untuk setidaknya meringankan hukuman Mo Qing Shan. Dan benar saja, Chen Ai Lin benar-benar datang untuk memohon pada Chen Wang.
"Masalah ini bukanlah sesuatu yang bisa kau campuri! Dan juga, Mo Qing Shan sudah tahu jika dia akan dihukum terlepas dari jasa-jasanya dan dia tidak keberatan akan hal itu. Jadi kau kembali saja ke istana dan jangan mengacau." Chen Wang dengan acuh tak acuh menarik pergelangan tangan Chen Ai Lin yang masih memeluk lengannya.
"Ge, aku mohon! Aku berjanji tidak akan nakal lagi. Aku akan melakukan apapun sebagai balasannya. Kau bisa mengatakan keinginanmu padaku." Pinta Chen Ai Lin.
Chen Wang diam sejenak. Dia berpikir untuk memanfaatkan Chen Ai Lin untuk mencari sesuatu yang berkaitan dengan klan Mo. Ya, Kaisar Chen sangat mencintai Chen Ai Lin, jadi pasti sangat mudah jika Chen Ai Lin menyusup ke istana Kaisar untuk mencari sesuatu.
Tidak! Chen Ai Lin tidak boleh terlibat! Chen Wang menggelengkan kepalanya dengan penuh putus asa.
"Wangye," lamunan Chen Wang segera berakhir saat Jiang Xianji datang dengan tiba-tiba. Ekspresinya terlihat serius.
Chen Wang, "Xiao Ai Lin, kau tahu dengan pasti bahwa aku bisa mengusirmu tanpa perlu bertanya padamu. Aku bisa menyeretmu kembali ke istana. Jadi kau mau pergi sendiri atau Jiang Xianji akan menyeretmu?!"
Chen Ai Lin menelan ludah. Ekspresi kakaknya kini tampak sangat menakutkan. Ya, Chen Ai Lin tahu dengan pasti jika kakaknya sudah marah, maka tidak akan ada yang bisa menanganinya. Dan Chen Ai Lin, dia terlalu takut pada Chen Wang.
Gadis itu akhirnya pergi dengan ekspresi kesal di wajah cantiknya.
"Ada apa?" Chen Wang bertanya pada Jiang Xianji.
Jiang Xianji, "ini tentang klan Mo. Ada sesuatu yang saya temukan Wangye."
Ekspresi Chen Wang sangat serius saat ini.
*/
Mo Qing Shan tiba di Luoyang di pagi hari. Dia tidak pernah sebahagia saat ini. Ya, kebahagiaannya sangat sederhana dan itu cukup dengan melihat senyuman Mo Qi Yue. Walau pun luka ditubuhnya masih belum sembuh, tapi Mo Qing Shan samasekali tidak merasakan sakit. Semua rasa sakit itu telah tergantikan oleh semangat bertemu Mo Qi Yue.
"Paman buka pintu gerbangnya, Mo Qing Shan telah kembali." Teriakan penuh semangat terdengar dari luar gerbang Mo Fu.
Xu Jia hanya bisa tersenyum ketika dia melihat kelakuan tuan mudanya itu.
"Tuan muda sudah kembali." Sapa pelayan tua keluarga Mo.
Mo Qing Shan mengangguk dengan senyuman manis di wajahnya. Layaknya seorang anak yang ingin sekali bertemu dengan ibunya, Mo Qing Shan bertanya, "dimana Jiejieku?"
"Kau hanya merindukan Jiejiemu, bagaimana dengan ibu?" Suara lembut terdengar dari belakang Mo Qing Shan.
"Begitu pula denganku." Tuan Mo segera bersuara ketika dia di waktu yang bersamaan muncul dengan ekspresi sedikit kesal.
"Ayah! Ibu! Astaga! Putra kalian yang tampan ini sangat merindukan kalian." Mo Qing Shan terkekeh saat dia kemudian memeluk ayah dan ibunya.
Nyonya Mo menahan haru, matanya merah sampai akhirnya air matanya tumpah dan membasahi pipinya yang sudah mulai keriput. Mo Qing Shan segera mengusap air mata itu lalu mengecup pipi ibunya dengan lembut.
“Jangan menangis ibu. Anak ibu sudah ada disini dan dalam keadaan baik-baik saja. Apakah ketampanan anakmu ini telah berkurang sehingga ibu menangis?” Mo Qing Shan berkata sembari terkekeh.
Tuan Mo segera menarik telinga tuan muda Mo. Harga diri Mo Qing Shan runtuh di depan para pelayan, termasuk Xu Jia.
“Aduh, kenapa ayah malah menarik telingaku?! Aku baru saja kembali!” Protes Mo Qing Shan.
Tuan Mo mendengus tapi dia tidak berniat melepaskan cengkeramannya pada putra tunggalnya itu, “kau pantas mendapatkannya bocah nakal.”
“Jangan menarik telinganya, lihatlah itu berubah menjadi merah!” Nada bicara nyonya Mo tegas, tapi dia tidak marah pada suaminya. Hanya saja dia tidak akan membiarkan suaminya menyakiti putra kesayangannya itu.
Mo Qing Shan menggosok telinganya yang masih nyeri akibat ulah ayahnya sendiri saat dia berkata, “dimana Jiejie? Apakah dia sudah pergi bekerja?”
“Dia ke pasar dan masih belum kembali. Dia mendengar berita kepulanganmu, jadi dia ingin memasak sesuatu untukmu.” Jawab nyonya Mo.
Mo Qing Shan mengerutkan keningnya sebelum akhirnya pandangannya yang menusuk jatuh pada Xu Jia. Mo Qing Shan menggertakkan giginya saat dia berkata pada Xu Jia, “kau akan membayarnya.”
Xu Jia buru-buru berkata, “tuan muda, tuan muda sepertinya lelah. Saya akan menyiapkan air hangat untuk tuan muda mandi.”
Pemuda itu segera melarikan diri dengan kecepatan penuh, membuat Mo Qing Shan menghela napas.
Ya, Mo Qing Shan pada awalnya berniat untuk memberikan kejutan pada Mo Qi Yue. Dia tidak mau mengirim surat dan memberi tahu pada Mo Qi Yue bahwa dia akan pulang. Tapi siapa yang akan menyangka jika sahabat sekaligus pengawal pribadi Mo Qing Shan, Xu Jia, akan menjadi orang yang memberi tahu Mo Qi Yue tentang hal itu?
Dua hari sebelum Mo Qing Shan kembali, Xu Jia sudah mengirim surat ke Luoyang. Dan beruntungnya, surat itu sampai begitu cepat sehingga Mo Qi Yue sangat bersemangat hingga gadis itu bahkan pergi ke pasar di pagi hari.
“Kalau begitu aku akan menyusulnya!” Mo Qing Shan baru saja melangkah sekali dan kerah pakaiannya telah ditarik oleh tuan Mo.
“Jangan kemana-mana dan ikut ayah. Ada sesuatu yang ingin ayah bicarakan denganmu.” Ekspresi tuan Mo berubah menjadi serius.
Mo Qing Shan tidak lagi membantah. Dia segera mengikuti tuan Mo ke dalam ruang kerjanya. Setelah berada di dalam ruang kerja tuan Mo dan pintu tertutup, suasana berubah menjadi serius.
“Ayah, apa yang ingin ayah bicarakan padaku?” Tanya Mo Qing Shan.
Tuan Mo duduk di kursinya dan dia juga memberikan isyarat pada Mo Qing Shan untuk duduk. Ekspresinya secara perlahan mengendur dan suasana menjadi cair kembali.
"Bagaimana perjalananmu? Apakah itu mempengaruhi lukamu?" Tanya tuan Mo dengan suara santai.
Mo Qing Shan sedikit memiringkan kepalanya. Dia tidak mengatakan apapun, "...."
"Lukamu, apakah itu parah?" Tidak mendapatkan jawaban dari putranya, tuan Mo memutuskan untuk kembali bertanya.
Mo Qing Shan memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan dua pertanyaan yang terlontar dari mulut ayahnya itu. Dia berkata, "ayah, kenapa ayah bertanya seperti itu?"
"Oh?" Tuan Mo mengambil sebuah batu bidak hitam dan menaruhnya di papan catur. Dia kemudian berkata, "tidak bisakah seorang ayah bertanya tentang kabar putra ayah sendiri?"
Tuan Mo memberikan isyarat pada Mo Qing Shan agar putranya itu mengambil batu catur berwarna putih, ya dengan kata lain dia ingin mengobrol bersama putranya.
"Aku tahu, aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja aku tahu kalau yang ingin ayah katakan bukan ini." Mo Qing Shan meletakkan batu putih yang diambilnya di atas papan catur seraya berkata, "aku adalah anak ayah. Aku tahu betul bagaimana karakter ayahku. Ayah, katakan saja apa yang ingin katakan."
Tuan Mo mengambil batu hitam lagi tapi dia tidak buru-buru meletakkannya di atas papan catur. Dia terlebih dahulu berkata, "istana sama halnya dengan papan catur ini. Dan semua batu yang ada di atas papan ini adalah manusia yang tinggal di dalamnya."
Tuan Mo berkata setelah jeda sejenak, "ada raja dan juga prajurit. Prajurit akan melindungi raja dan raja akan berusaha mengambil alih wilayah orang lain. Seperti ini."
Batu hitam yang digenggam tuan Mo mengambil alih tempat batu putih milik Mo Qing Shan. "Apa yang kau tangkap dari ucapanku."
"Perebutan kekuasaan." Jawab Mo Qing Shan.
"Tepat sekali." Tuan Mo menjelaskan, "tempat itu memang megah dan banyak orang ingin masuk ke dalam. Tapi daripada itu, istana adalah tempat yang mengerikan dimana perebutan kekuasaan dan pertumpahan darah sering kali terjadi. Itu tidak memandang apakah mereka bersaudara atau tidak. Berhati-hatilah."
"Aku mengerti ayah. Aku akan berusaha untuk menjaga diriku." Mo Qing Shan menghela napas dengan acuh tak acuh.
Tuan Mo tiba-tiba berdiri, dia berjalan dan Mo Qing Shan masih memperhatikannya. Tuan Mo berdiri di atas lantai dengan karpet. Mo Qing Shan tidak menunjukkan reaksi di wajahnya, tapi dia tahu betul apa yang tersembunyi di bawah kaki ayahnya.
"Kau seharusnya menanyakan sesuatu pada ayah kan?" Tuan Mo berkata secara tiba-tiba, "apakah kau sudah tidak penasaran dengan hal itu lagi?"
Mo Qing Shan menyipitkan matanya, "apa maksud ayah?"
"Kau sudah dewasa nak, ayah tidak bisa lagi membohongimu." Tuan Mo menundukkan kepalanya, matanya tertuju pada lantai, "ayah tahu kau pernah masuk ke dalam ruangan pribadi ayah."
Mo Qing Shan tersentak saat dia mendengar hal ini. Dia secara tidak sengaja menumpahkan wadah berisi batu putih yang ada di tepi meja.
"Ayah! Ba..bagaimana ayah tahu?" Mo Qing Shan terlihat pucat. Dia terlihat seperti seorang pencuri yang telah tertangkap basah.
"Kau adalah putra ayah dan ayahmu ini mengenalmu. Ayah tahu putra ayah adalah pemuda yanh cerdas." Kata tuan Mo dengan senyuman di wajahnya. Dia tampak santai dan tidak terlihat marah sedikit pun.
Mo Qing Shan menelan ludahnya, "maafkan aku ayah. Aku...aku hanya..."
"Sekarang ayah akan bertanya padamu." Tuan Mo kali terlihat benar-benar serius, "apa saja yang telah kau ketahui?"