Wake Up, Jiejie is here

1762 Kata
Mo Nian Zhen tidak lagi membantah setelah dia mendapatkan kata-kata mutiara dari Chen Ai Lin. Dia tanpa banyak bicara langsung membantu Chen Ai Lin untuk naik ke atas kudanya. Chen Ai Lin duduk di depan dengan punggungnya menghadap ke d**a Mo Nian Zhen. "Kenapa aku tidak duduk di belakang? Kenapa aku harus duduk di depan begini? Aku merasa tidak nyaman." Chen Ai Lin secara blak-blakan menyatakan ketidaksukaannya. Mo Nian Zhen, si pemuda cerewet dengan tampang manisnya berkata, "astaga, jika sesuatu yang berbahaya terjadi, saya tidak akan bisa menanggung akibatnya Gongzhu. Saya dan keluarga saya mungkin akan berakhir dipancung! Dan juga, jika Gongzhu tertidur dan jatuh, rasanya akan sangat sakit jatuh dari kuda. Jika Gongzhu duduk di depan saya seperti ini, maka saya tidak akan terlalu khawatir." Mulut Chen Ai Lin secara tidak langsung dibekap oleh kata-kata Mo Nian Zhen. Gadis itu diam-diam mengutuk, "dasar cerewet." Keduanya akhirnya bertolak ke Chang'an. Jangan pernah ragukan kemampuan tuan muda kedua keluarga Mo, Mo Nian Zhen, dalam berkuda. Dia lebih dari mumpuni jika itu tentang menunggangi kuda. Kecepatan dan kelihaian kuda yang ditungganginya sangat baik, itu semua tentu saja berkata kendali dari Mo Nian Zhen. "Sial, dia cepat sekali. Bagaimana jika aku terjatuh. Tapi tidak mungkin aku mengatakannya." Wajah Chen Ai Lin tampak pucat. Chen Ai Lin tidak pernah merasa semual ini ketika dia bepergian. Ya, dia biasanya akan duduk dengan nyaman di dalam gerbong kereta, tapi kali ini, untuk kali pertama, putri kekaisaran Chen Ai Lin harus merasakan duduk di atas punggung kuda yang berlari sangat kencang. Setelah satu jam perjalanan, Chen Ai Lin tidak lagi bisa menahannya. Chen Ai Lin mencengkram lengan Mo Nian Zhen tanpa berbalik. Dia berkata dengan suara lemah, "Mo Nian Zhen, berhenti dulu. Aku, aku ingin muntah." Mo Nian Zhen segera menarik tali kekang kudanya. Setelah itu, dia dengan sigap turun dari kudanya. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Mo Nian Zhen membantu Chen Ai Lin turun dari kudanya. Kedua tangan Mo Nian Zhen memegang pinggang tipis Chen Ai Lin. Chen Ai Lin sedikit tersentak tapi dia segera melupakan hal itu karena perutnya sudah sangat sakit. Huekkk..... Suara Chen Ai Lin muntah terdengar di sekitar. Mo Nian Zhen sedikit mengerutkan keningnya. Ya, tuan muda Mo Nian Zhen tidak pernah suka melihat sesuatu yang menjijikan seperti seseorang yang muntah. Tapi untuk beberapa alasan, kali ini Mo Nian Zhen terlihat begitu iba. "Ehm...maaf Gongzhu." Mo Nian Zhen diam-diam mengangkat telapak tangannya sebelum akhirnya menepuk punggung Chen Ai Lin dengan lembut. Chen Ai Lin merasakan kehangatan di punggungnya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak lagi bisa protes setelah perutnya dikocok. "Gongzhu, apakah Gongzhu tidak apa-apa?" Tanya Mo Nian Zhen sembari menyerahkan kantong air pada Chen Ai Lin. Chen Ai Lin meraih kantong air itu dan meminumnya, "aku akan baik-baik saja. Tapi bisakah kita beristirahat sebentar saja? Perutku masih sakit." "Ya, tentu saja Gongzhu." Kata Mo Nian Zhen dengan lembut. Keduanya tinggal dan duduk di bawah pohon. Tidak ada yang memulai pembicaraan dan keduanya hanya diam. Ini tentu saja tidak seperti biasanya karena jika Mo Nian Zhen dan Chen Ai Lin bertemu, maka mustahil bagi keduanya untuk tidak bertengkar. Barulah setelah kondisi Chen Ai Lin membaik, keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Chen Ai Lin bahkan terlihat sangat kelelahan dan sebagai gantinya, gadis itu tertidur saat punggungnya bersandar di d**a Mo Nian Zhen. */ Keesokan harinya di Chang'an. Kondisi Mo Qing Shan masih belum membaik. Pemuda itu masih belum sadarkan diri dan tubuhnya masih sepanas hari kemarin. Xu Jia juga tidak dalam kondisi tubuh yang baik. Ya, setelah kelelahan, dia juga mengalami demam. Tapi walau pun demikiam, Xu Jia tetap menolak untuk meninggalkan Mo Qing Shan. Pemuda itu selalu berada di samping Mo Qing Shan dan menjaganya. Nan Yang tidak ada di sekitar karena dia harus menangani beberapa urusan bersama dengan Lian Feng. Chen Wang, pangeran kekaisaran itu nyatanya tidak hanya menemukan bukti korupsi yang baru, jadi dia memutuskan untuk terus menyelidiki kasus korupsi militer itu sampai ke akarnya. Saat kembali dari pekerjaannya, Nan Yang dan Lian Feng segera menuju ke penginapan tempat Chen Wang dan para tentara tinggal, termasuk Mo Qing Shan dan Xu Jia. Ya, penginapan itu telah disewa secara kesuluruhan oleh Chen Wang. Suara pintu kamar terketuk, selang beberapa saat, Nan Yang dan Lian Feng masuk ke dalam kamar Mo Qing Shan. Xu Jia segea bangun untuk membungkuk dan memberi hormat pada dua pejabat itu. Nan Yang, dia melambaikan tangannya dan berkata, "duduklah, kau sepertinya tidak terlihat baik-baik saja tuan Xu." "Terima kasih atas perhatian tuan-tuan sekalian. Saya baik-baik saja. Ah iya, tolong jangan panggil saya 'tuan', saya hanyalah orang rendahan, tidak pantas dipanggil tuan." Kata Xu Jia. Lian Feng, "kalau begitu aku hanya akan memanggilmu Xu Jia. Lagi pula panggilan itu juga terdengar akrab. Kau juga bisa memanggilku Feng ge, aku sedikit lebih tua darimu." Lian Feng tersenyum lembut saat dia berkata, "aku harap kau tidak keberatan." Xu Jia segera berdiri dan membungkukkan badannya, "tidak, saya tidak berani." "Santai saja. Kita telah melalui banyak hal bersama." Nan Yang menimpali. "Bagaimana keadaan Wakil Komandan? Apakah sudah ada perubahan?" Tanya Liam Feng. Xu Jia menggelengkan kepalanya seraya berkata. "Demamnya masih belum turun." Lian Feng mengerutkan keningnya dan berkata. "Semalam aku keluar kamar dan aku mendengar Wakil Komandan berbicara. Apakah itu bukan dia?" Xu Jia menghela napas, "tuan muda mengingau. Dia terus-terusan mengingau dan menyebut nama nona Mo." "Apakah itu kekasih Wakil Komandan?" Nan Yang mungkin belum tahu akan hal ini, jadi dia bertanya. Xu Jia tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Dia menjawab, "bukan, nona Mo adalah Jiejie tuan muda." "Jiejie? Wakil Komandan memiliki kakak perempuan?" Nan Yang tampak tertarik tapi Xu Jia hanya memberinya anggukan tanpa mengatakan apa-apa lagi karena suara Chen Wang buru-buru menghentikannya. Chen Wang berkata, "berhentilah mengobrol. Kalian mengganggu Mo Qing Shan." Nan Yang dan Lian Feng sangat terkejut sampai-sampai mereka lupa untuk berdiri dan memberi hormat. Baru saat Chen Wang mengatakan bahwa dia ingin berbicara dengan Xu Jia, keduanya akhirnya keluar dari kamar itu. "Kau sepertinya tidak dalam kondisi yang baik, pergilah beristirahat." Kata Chen Wang pada Xu Jia. Xu Jia masih menundukkan kepalanya saat dia berkata. "Terima kasih atas perhatian Wangye. Saya baik-baik saja." Chen Wang memang tidak pernah mengatakan hal-hal yang terdengar baik pada Mo Qing Shan, tapi dia juga tidak pernah tidak melihat Mo Qing Shan. Ya, selama Mo Qing Shan pingsan, Chen Wang selalu pergi untuk melihatnya. Saat hampir tengah malam, Jiang Xianji dan Mo Qi Yue akhirnya tiba di Chang'an. Mereka menempuh perjalanan selama dua hari. Begitu mereka tiba di penginapan, Mo Qi Yue yang sudah sangat ingin melihat Mo Qing Shan langsung bergegas masuk ke dalam penginapan. Chen Wang masih belum tidur saat Mo Qi Yue tiba, jadi dia bertemu dengan mantan tunangannya itu. Chen Wang, "nona Mo, kau ada disini?" Mo Qi Yue sedikit menekuk lututnya dan memberi hormat, "benar sekali Wangye. Maaf, tapi saya harus segera pergi. Saya harus segera pergi." Chen Wang sedikit tersenyum, "tentu saja kau harus melihatnya, tapi Benwang yakin nona Mo tidak tahu dimana kamar tuan muda Mo kan? Ayo, Benwang akan mengantarmu." Mo Qi Yue tidak lagi menolak. Dia langsung berjalan dan mengikuti Chen Wang dari belakang. Begitu sampai di depan kamar tempat Mo Qing Shan tinggal, Chen Wang langsung membuka pintu. Di dalam ada Xu Jia, Nan Yang, dan Lian Feng. Ketiganya tampak terkejut saat mereka melihat ada wanita cantik yang datang untuk melihat Mo Qing Shan. Xu Jia mungkin lebih dari terkejut. "Nona," sapa Xu Jia. Mo Qi Yue mengangguk sedikit saat dia menatap Xu Jia. Mo Qi Yue kemudian masuk ke dalam ruangan itu dan melihat seseorang tengah terbaring, dan itu tentu saja Mo Qing Shan. Mo Qi Yue duduk di samping tempat tidur Mo Qing Shan, tangan kecil gadis itu meraih tangan Mo Qing Shan yang penuh luka dan goresan. "ShanShan, Jiejie ada disini, kenapa kau tidak bangun? Apakah kau tidak ingin melihat Jiejie?" Kata Mo Qi Yue dengan suara lembut. Mo Qing Shan, "...." Untuk kali pertama Mo Qi Yue melihat Mo Qing Shan, yang selalu tangguh, kini tampak lemah. Hati gadis itu sangat sakit dan dia merasa sedih. Mo Qi Yue bahkan tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Mo Qing Shan. "Nona," Xu Jia tiba-tiba bersuara. Dia bahkan langsung berlutut di lantai, "ini semua karena saya. Saya bersalah, saya adalah penyebabnya. Jika saja saya tidak pergi meninggalkan tuan muda, hal seperti ini pasti tidak akan terjadi. Silahkan nona hukum saya. Tapi tolong, tolong biarkan saya merawat dan melihat tuan muda sembuh dulu." Mo Qi Yue telah mengenal Xu Jia sejak pemuda itu kecil, jadi dia tahu betul watak Xu Jia. Mo Qi Yue berkata, "bangunlah. Aku tahu jika ShanShan melihatmu seperti ini, dia akan marah. Jadi bangunlah." "Xu Jia, aku mengenalmu sejak kita masih kecil. Aku tahu bagaimana watakmu. Dan juga, aku yakin kau tidak akan pernah meninggalkan ShanShan jika ....," Mo Qi Yue menatap Mo Qing Shan yang masih tertidur, dia melanjutkan ucapannya, "bocah nakal ini tidak memaksamu. ShanShan memaksamu untuk meninggalkannya kan?" Xu Jia terdiam tanpa mengatakan apa-apa, dengan kata lain apa yang dikatakan oleh Mo Qi Yue itu benar. Mo Qi Yue hanya tersenyum, berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang ada di dalam hatinya. "Kau tampak tidak baik-baik saja. Apakah kau sakit Xu Jia?" Tanya Mo Qi Yue. Xu Jia. "Tidak, saya ...." "Dia demam, dia kurang beristirahat dan dia belum makan seharian ini." Bahkan sebelum Xu Jia menyelesaikan ucapannya, Nan Yang sudah memotong ucapannya. Xu Jia, "...." Mo Qi Yue menghela napas. "Kalau begitu pergilah beristirahat sekarang. Aku yang akan menjaga ShanShan disini. Kau bisa tenang sekarang." Xu Jia, "tapi ...." "Aku terbiasa menjaganya saat dia demam, bahkan saat dia telah dewasa. Xu Jia, menurutlah dan pergilah beristirahat." Kata Mo Qi Yue lagi. Xu Jia mengangguk, "baik nona." Mo Qi Yue kini tinggal di kamar Mo Qimg Shan. Gadis itu dengan telaten merawat Mo Qing Shan. Tangannya yang mungil sekarang terlihat menyeka wajah Mo Qing Shan menggunakan kain yang telah dicelupkan ke dalam baskom berisi air hangat. Di waktu yang bersamaan wajah cantik Mo Qi Yue terlihat begitu kelelahan. Ya, bagaimana tidak? Gadis itu telah menempuh perjalanan jauh dan dia samasekali belum beristirahat secara layak. Tong Nian, gadis yang selalu mengikuti Mo Qi Yue bahkan nampak kelelahan. Dia juga ikut ke Chang'an, dan sekarang dia tengah tertidur dengan di sebuah kursi panjang di ruangan yang sama. Lalu bagaimana dengan Song Zhi Rou yang juga secara diam-diam pergi ke Chang'an? Jiang Xianji telah membicarakan perihal Song Zhi Rou ini pada Chen Wang, dan Chen Wang segera memerintahkan, "awasi dia. Dia keras kepala tapi dia tidak boleh terluka. Merepotkan sekali." "Baik Yang Mulia." Kata Jiamg Xianji seraya berbalik pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN