bc

DI BAWAH KENDALI SANG CEO DINGIN

book_age18+
55
IKUTI
1K
BACA
revenge
HE
time-travel
teacherxstudent
office/work place
rebirth/reborn
like
intro-logo
Uraian

Dikhianati. Dihancurkan. Dibuang ke jurang kehancuran oleh orang-orang yang paling ia percayai. Yura, sang arsitek jenius, kehilangan segalanya—masa depan, kehormatan, bahkan hidupnya.Namun, takdir memberinya satu kesempatan lagi.Ia terbangun lima tahun di masa lalu, dengan ingatan pahit sebagai senjata dan cetak biru masa depan di tangannya. Kali ini, bukan lagi kepolosan yang ia genggam, melainkan peta menuju kekuasaan—dan balas dendam. Untuk memenangkan pertempuran di dunia korporat yang kejam, Yura harus mengorbankan sisa-sisa dirinya yang lama.Strateginya yang brilian dan agresif menarik perhatian seorang mentor yang tak terduga: seorang CEO legendaris yang dingin dan tanpa ampun. Ia menawarkan Yura sebuah pakta bimbingan menuju puncak dengan imbalan kepatuhan mutlak. Sebuah perjanjian dengan iblis yang bisa menyelamatkan atau justru menghancurkannya selamanya.Di lantai seratus gedung pencakar langit, takhta kekuasaan menunggunya. Tapi, berapakah harga yang harus ia bayar untuk sebuah keadilan? Dan mampukah ia menjadi ‘Bidadari di Lantai Seratus’ tanpa kehilangan sayapnya untuk selamanya?

chap-preview
Pratinjau gratis
BANGKIT KEMBALI
Udara pagi itu terasa setipis kertas, dingin dan penuh ketegangan. Hal pertama yang menyentuh kesadaran Yura bukanlah rasa sakit, tetapi aroma yang sudah lama terkubur: aroma kopi pahit yang tertinggal di bantal katunnya, bercampur dengan kelembapan pendingin ruangan yang berlebihan. Aku tersentak bangun, napas terhenti di tenggorokan. Jantungku berdebar liar, bukan karena terkejut, melainkan karena memori otot yang menyuruhku lari. Keringat dingin membanjiri punggungku, membasahi bantal yang anehnya terasa sangat asing dan sangat kukenal. Aku ingat bau rumah sakit. Bau antiseptik, bau kegagalan. Bau pengkhianatan yang tak terhindarkan. Aku ingat kegelapan yang menelan, dan janji yang kuukir di ambang kematian: bahwa jika waktu memberiku belas kasihan, aku akan mengambilnya dan menjadikannya pedang. Aku mendorong diri tegak. Pandanganku yang kabur tertuju pada meja nakas. Di sana, tergeletak sebuah kalender digital kecil. Angka-angka itu menari, tetapi hanya satu yang membekas: 18 Oktober. Dan tahunnya? Aku membeku. 2023. Lima tahun lalu. Tepat lima tahun sebelum Innovatech mengumumkan IPO yang menjadikannya kerajaan, dan lima tahun sebelum aku terbaring sekarat di sebuah rumah sakit murah, ditinggalkan, memegang surat pengusiran dari bank. Aku tidak berteriak. Aku tidak menangis. Rasa histeria yang seharusnya meledak di dadaku, entah bagaimana, hanya menjadi hening yang mematikan. Aku meraih ponsel lama di nakas. Layarnya masih retak di sudut, persis seperti yang kuingat. Aku membuka galeri foto. Foto kami berdua aku dan Leo tertawa kencang di hari peluncuran prototipe Innovatech. Foto itu adalah artefak kebodohan dan cinta buta. “Aku kembali,” bisikku pada diriku sendiri. Suaraku serak, asing, seperti suara yang baru belajar berbicara lagi. “Aku benar-benar kembali.” Aku bangkit, berjalan ke kamar mandi, dan menatap pantulan diriku. Bukan wajah yang hancur, bukan mata yang lelah karena dihantui tuntutan hukum dan kebangkrutan. Tetapi wajah yang lebih muda, naif, yang masih percaya pada janji manis dan kemitraan. Wajah yang belum mengenal harga dari kebebasan. Aku memejamkan mata. Waktu adalah mata uang. Waktu adalah keunggulan kompetitif yang tak ternilai harganya. Aku memiliki jendela waktu kritis. Besok. Besok adalah hari di mana aku seharusnya menandatangani kontrak pemegang saham minoritas Innovatech, kontrak yang secara efektif akan melucuti semua kendaliku dalam lima tahun ke depan dan menjadikanku b***k korporat Leo. Aku memegang tepi wastafel. Otakku, yang selama ini sibuk dengan rasa sakit dan kekalahan, kini terasa seperti superkomputer yang baru dihidupkan kembali. Setiap detail kecil, setiap kegagalan pasar yang kulihat di kehidupan lama, kini adalah cetak biru untuk kesuksesan. Aku tahu saham mana yang akan meledak. Aku tahu celah paten Innovatech. Aku tahu rahasia yang akan menghancurkan Leo. Namun, pengetahuan ini datang dengan harga yang mengerikan: aku harus mematikan Yura yang lama. “Jangan hubungi dia,” perintahku pada pantulan diriku. “Jangan cari pembenaran. Jangan cari simpati. Itu adalah kelemahan.” Aku harus menahan keinginan membara untuk segera bertindak, untuk menghubungi Leo dan menuntut keadilan. Itu adalah jebakan emosional. Jika aku bertindak berdasarkan amarah, aku akan menjadi gila, dan aku akan kalah lagi. Balas dendam haruslah dingin, terstruktur, dan didanai dengan baik. Aku melangkah keluar dari kamar mandi. Aku mencari surat-surat penting di meja kerja kecilku. Ada tumpukan dokumen legal yang sudah kusimpan di dalam map berwarna biru. Ini adalah salinan kontrak Innovatech yang seharusnya kuserahkan besok pagi. Saat jari-jariku menyentuh kertas itu, kilas balik menyerbu, brutal, tak terhindarkan. Ini bukan kilas balik kenangan indah, tetapi kilas balik kematianku. (Kilas Balik - 30 Detik) Bau desinfektan. Jendela yang kotor. Aku berbaring di ranjang rumah sakit yang dingin, memegang surat pengusiran. Aku tidak punya apa-apa. Semua sahamku diambil. Nama baikku dihancurkan. Leo pria yang kucintai tidak datang. Aku ditinggalkan oleh orang yang bersumpah akan membangun dunia bersamaku. Darahku terasa seperti es di nadiku. Aku menatap langit-langit, air mata sudah mengering. Aku mengucapkan sumpah itu, bukan dengan suara, tetapi dengan setiap serat keberadaanku: "Jika aku hidup lagi, aku akan menghancurkanmu, Leo. Aku akan mengambil kembali kebebasanku, dan aku akan memastikan kau merasakan kehancuran yang kualami." Kilas balik itu berakhir secepat kilat, tetapi dampaknya abadi. Mata Yura kini tidak lagi mengandung keraguan atau kebingungan, hanya fokus murni. Dia telah berubah dari korban yang hancur menjadi operator yang fokus. Semua emosi yang tidak perlu cinta, penyesalan, keraguan dimatikan. Mereka adalah beban yang tidak bisa dia tanggung di medan perang ini. Aku menarik napas panjang. Aku berjalan ke dapur, mengambil pisau pemotong kertas yang tajam. Aku meletakkan dokumen legal itu di atas meja. Ini adalah kontrak yang akan mengikatku pada Leo dan Innovatech selama lima tahun ke depan, menjadikan Yura hanya sekadar nama di atas kertas, tanpa kekuasaan. Aku tidak hanya akan merobeknya. Aku harus memotongnya, memastikan setiap klausul yang membelengguku hancur menjadi debu yang tidak berarti. Pisau pemotong kertas itu menembus kertas tebal dengan suara mendesis yang memuaskan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Aku memotongnya menjadi strip-strip kecil, memvisualisasikan bukan kertas yang robek, tetapi rantai yang putus dari pergelangan kakiku. Setiap robekan adalah langkah menuju kebebasan. Balas dendam bukan lagi hanya tujuan, tetapi sebuah arsitektur yang harus kubangun dengan presisi, batu demi batu. Aku mengumpulkan potongan-potongan kertas itu di telapak tangan, sebuah simbol dari kontrak lama yang sekarang sudah tidak berlaku. Aku berdiri di ambang jendela, merasakan matahari pagi di wajahku matahari pagi dari kehidupan yang kedua. Aku membiarkan potongan-potongan itu terbang. Mereka berputar di udara, terbawa angin sejuk, menuju jalanan yang ramai. Mereka sekarang adalah sampah, sama seperti janji-janji yang diberikan Leo padaku. Tepat pada saat aku menarik napas, menikmati keheningan yang baru kubangun, telepon berdering. Suara deringnya keras dan ceria, sebuah melodi yang dulu kukenal sebagai kebahagiaan, dan kini kutahu sebagai lonceng kematian. Aku menatap layarnya. Nama yang tertera: Leo. Aku ragu sejenak, hanya sepersekian detik. Hati Yura yang lama ingin menjawab, ingin menanyakan mengapa, ingin meminta maaf, ingin bernegosiasi. Tapi Yura yang baru, sang operator, mengambil alih. Aku menarik napas dalam, mengambil sikap paling dingin yang bisa kubayangkan. Aku menjawab panggilan itu. "Halo?" Suaraku datar, hampir tanpa emosi. Suara Leo, penuh energi dan kegembiraan palsu, meledak di speaker. "Sayang! Kau sudah bangun? Aku hanya ingin memastikan kau siap untuk besok. Ini adalah hari besar kita, Yura. Masa depan kita dimulai besok, saat kau tanda tangan. Kita akan menjadi kaya, Nak!" Kata-kata 'tanda tangan' dan 'kaya' itu menusuk, mengingatkanku betapa mudahnya dia memanipulasiku dulu. Aku menutup mata, membiarkan kemarahan menjadi baja di tulangku. "Leo," kataku, suaraku masih tenang, meskipun di dalamnya terdapat badai yang siap menghancurkan. "Masa depan kita tidak akan dimulai besok." Terdengar jeda yang bingung dari ujung sana. "Apa maksudmu? Apakah ada masalah dengan penerbanganmu?" "Tidak ada masalah," jawabku, menguatkan diri. "Hanya ada perubahan rencana." Aku kembali ke meja kerja, mengambil sisa-sisa kontrak yang baru saja kurobek. Aku meremasnya di tanganku, merasakan kekasaran kertas itu. Aku tersenyum getir, senyum pertama dari Yura yang kejam. "Aku tidak akan menandatangani apa pun besok, Leo. Dan kau tidak akan pernah menyentuhku lagi." Aku mengakhiri panggilan itu, sebelum Leo sempat merespons kebingungannya. Aku mematikan ponselku, melemparkannya ke laci terkunci. Aku menatap potongan kertas yang kini hancur di tanganku. Kontrak yang terobek. Janji yang batal. Kebebasan yang baru saja kudapatkan. “Babak pertama dimulai,” gumamku. Aku harus segera membersihkan jejak, sebelum Leo mulai menyadari bahwa ‘Yura yang lembut’ telah digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
223.1K
bc

AKU DAN JIN CANTIK

read
4.4K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
49.3K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
23.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.3K
bc

TERNODA

read
204.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook