Bab 2

1584 Kata
Aku menatap meja kerja yang sekarang bersih, kecuali remahan-remahan kertas yang tersisa. Setiap robekan dari kontrak Innovatech itu adalah suara kebebasan yang kudengar. Kebebasan itu dibayar mahal bukan dengan uang, melainkan dengan lima tahun penderitaan dan penghinaan di kehidupan lama. Aku menyandarkan punggung ke kursi, memejamkan mata. Udara terasa lebih ringan. Ini adalah pemutusan ikatan utama. Kontrak itu seharusnya menjadi rantai emas; sekarang, itu hanya sampah yang telah kubuang. Tapi aku tahu, bagi Leo, keheningan di ujung telepon tadi bukanlah penolakan, melainkan tantangan. Ponselku, yang tergeletak diam di laci, mulai bergetar. Getaran itu terasa di seluruh meja. Panggilan pertama. Kedua. Ketiga. Tidak ada nada dering, hanya getaran yang memohon perhatian. Aku mengabaikannya, membiarkan Leo bergumul dalam kebingungannya. Dia terbiasa dengan Yura yang selalu menjawab, Yura yang selalu memprioritaskan dia di atas segalanya. Aku harus segera pindah. Tinggal di apartemen ini, di mana setiap sudut menyimpan memori palsu tentang “masa depan kami,” adalah risiko. Tapi aku belum punya modal untuk bergerak, apalagi untuk menyewa kantor. Aku harus bertahan di sini, setidaknya sampai modal awal kutanam. Tepat ketika aku membuka laptop untuk mulai meneliti pasar, aku mendengar suara yang paling tidak ingin kudengar suara ketukan pintu yang terlalu akrab, diikuti oleh suara Leo memanggil namaku dengan nada cemas yang dibuat-buat. "Yura! Sayang, buka! Aku tahu kau di dalam. Ada apa? Kau tidak pernah mematikan teleponmu!" Aku menahan napas. Dia datang. Tentu saja dia datang. Leo tidak pernah menerima 'tidak' jika itu mengganggu rencana besarnya. Ini adalah konfrontasi pertama. Aku tidak boleh gemetar. Aku harus menghadapi sumber rasa sakitku tanpa getaran. Aku berjalan ke pintu, tidak tergesa-gesa. Aku harus memastikan ekspresiku mencerminkan kebosanan profesional, bukan amarah membara dari reinkarnasi. Aku membuka pintu hanya selebar celah, cukup untuk memperlihatkan mata esku dan menghalangi pintu dengan bahuku. Leo berdiri di sana, mengenakan setelan kasual yang sempurna, dengan seikat bunga lili putih di tangan bunga favoritku. Senyumnya, dulu pesonaku, kini terlihat seperti topeng yang terbuat dari kebohongan. "Yura, terima kasih Tuhan. Aku mulai khawatir," katanya, nadanya terdengar seperti kekasih yang terluka. Ia berusaha melangkah masuk, tetapi aku memblokirnya. "Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Tanyaku, suaraku terdengar seperti gletser yang pecah dingin dan tajam. Senyumnya memudar, digantikan ekspresi bingung. "Aku di sini untuk tunanganku. Kau membatalkan janji terbesar kita melalui telepon. Apa maksudmu kau tidak akan menandatangani? Itu adalah kontrak sahammu, Yura. Kontrak yang kita susun bersama." "Kita susun bersama?" Aku mengulangi kata-katanya, membiarkan sedikit sindiran keluar. "Kau menyusunnya, Leo. Aku hanya membaca bagian 'hadiah kecil' darimu." Leo meletakkan bunga lili di ambang pintu, seolah itu akan melunakkan hatiku. "Baik, jika ada klausul yang kau tidak suka, kita bisa bahas. Tapi kau harus menandatangani besok! Para investor mengharapkan kita menjadi satu tim yang solid." Aku melirik bunga itu. Di kehidupan lama, aku akan mengambilnya, tersentuh oleh perhatiannya, dan melupakan keraguanku. Sekarang, bunga itu hanya mengingatkanku pada racun yang dibungkus dengan pita cantik. "Aku tidak akan menandatangani, Leo," kataku, kini menggunakan nada yang jauh lebih tegas. "Ini bukan masalah klausul. Ini adalah masalah visi." "Visi? Apa yang salah dengan visi kita? Kita membangun Innovatech bersama! Kau yang paling tahu potensi Hyper-Cloud kita!" Leo mulai terdengar panik, tetapi ia menyamarkannya sebagai gairah bisnis. "Kau salah, Leo. Kita membangun prototipe bersama. Tapi visi kita untuk perusahaan berbeda," jelasku, menjaga argumen tetap di ranah profesional. "Aku melihat Ascend (nama yang kusebutkan secara tidak sengaja, tetapi dengan penekanan) sebagai platform yang membutuhkan investasi agresif, ekspansi cepat, dan fokus pada AI generasi berikutnya. Kau melihat Innovatech sebagai proyek pribadi yang ingin kau kuasai sepenuhnya." Leo tertawa kecil, seolah aku baru saja membuat lelucon bodoh. "Oh, Yura. Dengarkan dirimu. Itu hanya ketakutan biasa sebelum melompat besar. Kita akan memegang kendali penuh, itulah intinya. Aku akan menjadi CEO, dan kau akan menjadi Ratu di sisiku. Kita akan IPO dalam lima tahun, dan kita akan kaya raya! Kau tidak perlu khawatir tentang modal agresif atau investasi gila-gilaan. Biarkan aku yang memegang kendali finansial, Sayang. Itu tugasku." Kata-kata 'Biarkan aku yang memegang kendali finansial' memicu kilas balik mengerikan. (Kilas Balik - 1 Menit) Kami duduk di kantor Innovatech yang masih kecil. Leo memberikan sebuah sertifikat saham kecil hanya 2% dari perusahaan yang dibingkai dengan indah. "Ini hadiah terbesar kita, Yura," katanya, matanya bersinar. "Ini adalah bukti cintaku dan kemitraan kita. Semua yang kumiliki, milikmu." Dia tidak pernah menyebutkan bahwa 98% saham lainnya berada di tangannya dan Co-Founder lainnya, dan bahwa 2% itu tidak memberiku hak suara, atau kendali atas keputusan besar. Itu adalah saham 'simpati', bukan saham kekuasaan. Aku ingat betapa bodohnya aku merasa terharu saat itu, merasa bahwa 2% itu adalah 'segalanya'. Aku tersentak kembali ke masa kini, mataku kini sekeras berlian. Aku tidak lagi melihat Leo, tetapi predator yang tersembunyi di balik jas mahal. "Itu bukan tugasmu, Leo. Itu adalah ilusi yang kau ciptakan agar kau bisa menjadi diktator perusahaan," balasku, menusuk tepat ke inti masalah. "Aku tidak ingin menjadi Ratu di sisimu. Aku ingin menjadi CEO di perusahaanku sendiri." Leo terlihat terluka. Ini adalah taktik lamanya berpura-pura menjadi korban. "Yura, jangan konyol. Kita sudah bertunangan! Kau meninggalkan Innovatech, kau meninggalkan masa depan kita. Demi apa? Demi ide gila yang belum tentu bisa kau danai? Kau tahu kau tidak punya modal. Kau tahu kau tidak punya koneksi besar." "Aku punya modal," kataku tenang, meskipun itu bohong, karena aku baru akan menjual perhiasan ibuku besok. "Dan aku akan mendapatkan koneksi. Aku tidak akan membiarkan hidupku diatur oleh janji-janji kosong dan 2% saham yang tidak berarti." Wajah Leo akhirnya menunjukkan keretakan. Kepanikan mulai merayap. "Dengar, aku tidak tahu siapa yang meracuni pikiranmu. Mungkin kau hanya kelelahan. Ambil cuti. Mari kita tanda tangan besok, dan setelah itu kita liburan ke Bali, seperti yang kita rencanakan. Lupakan masalah bisnis ini sebentar." Dia menawarkan pelarian, padahal yang kuinginkan adalah medan perang. "Leo," Aku memotongnya, nadaku kini final, tanpa ruang negosiasi. "Tidak akan ada Bali. Tidak akan ada tanda tangan. Innovatech adalah babak yang telah kututup, dan aku ingin kau pergi dari sini sekarang. Kau tidak akan pernah mendapatkan kendali atasku lagi." Dia mencoba satu usaha terakhir, suaranya berubah menjadi mengancam. "Kau akan menyesalinya, Yura. Kau akan hancur sendirian. Tanpa aku, kau bukan apa-apa. Kau tidak tahu bagaimana pasar bekerja!" Aku menatap matanya, dan di sana, untuk pertama kalinya, aku melihat pantulan ketakutannya yang samar bukan ketakutan kehilangan aku sebagai tunangan, tetapi ketakutan akan kehilangannya sebagai aset. "Aku tahu lebih banyak tentang cara kerja pasar daripada yang bisa kau bayangkan, Leo," bisikku, merujuk pada pengetahuan lima tahun masa depan. Aku tahu itu akan terdengar seperti gertakan, tetapi itu mengandung kebenaran yang kejam. "Dan kau tidak akan pernah menyentuhku lagi." Dengan kekuatan yang mengejutkan, aku menutup pintu dengan cepat dan menguncinya. Suara 'Klik!' gembok itu adalah melodi yang paling manis yang pernah kudengar suara kebebasan dan jarak. Leo mulai menggedor pintu, suaranya kini berubah dari bujuk rayu menjadi amarah yang eksplosif. "Yura! Buka pintu ini! Jangan membuat keputusan bodoh! Kau milikku! Innovatech adalah milik kita! Jangan berani-beraninya kau berpikir kau bisa melawanku!" Aku bersandar di pintu yang tebal, membiarkan gedoran dan teriakan Leo menyentuhku, tetapi tidak menembusku. Aku menarik napas, merasakan adrenalin yang dingin. Keberanian pertamaku. Aku telah menghadapi iblis masa laluku, dan aku tidak gemetar. Aku bahkan tidak menangis. Aku hanya merasa puas yang pahit. Aku menunggu hingga teriakan Leo meredup, hingga suara langkah kakinya menjauh dari koridor. Ketika keheningan kembali, aku berjalan ke jendela, menatap ke jalanan. Aku melihat sekilas siluet Leo memasuki mobil mewahnya, wajahnya terlihat merah karena marah dan bingung. Aku tersenyum getir. Itu adalah senyum yang tidak pernah kulihat di kehidupan lama. Senyum seorang operator yang berhasil memutus ikatan yang mematikan. "Kau tidak akan pernah menyentuhku lagi, Leo," bisikku pada kaca jendela yang dingin. "Kau pikir aku hancur tanpamu. Kau tidak tahu, kau baru saja melepaskan senjata." Namun, kepuasan ini berumur pendek. Aku melihat ke sekeliling apartemenku yang sederhana. Pemutusan ikatan sudah selesai, tetapi sekarang aku dihadapkan pada kenyataan yang jauh lebih brutal. Aku sendirian, dengan modal yang hampir nol, melawan seorang pria yang akan menjadi raja teknologi dalam lima tahun. Keberanian tidak membayar tagihan. Hanya uang yang bisa. Aku mengambil dompet, yang isinya hanya beberapa lembar uang kertas lusuh. Aku harus mendapatkan modal, dan aku harus melakukannya sekarang. Aku tidak punya waktu untuk berduka atau merayakan. Aku harus menjual satu-satunya peninggalan yang kumiliki. Peninggalan yang dulu kucintai lebih dari apa pun. Aku berjalan ke laci kecil di kamar tidur. Di sana, terbungkus beludru biru kusam, terbaring Kalung Berlian Hati perhiasan yang diberikan ibuku saat aku lulus SMA. Kenangan keluarga satu-satunya. Itu adalah jangkar emosional, simbol Yura yang lama, yang naif, yang mencintai tanpa syarat. Aku mengambil kalung itu, merasakan dinginnya berlian di telapak tanganku. Ini adalah pengorbanan emosional terakhir yang harus kulakukan demi keberhasilan finansial. $5,000. Itu adalah harga untuk masa depanku. Itu adalah modal yang kritis. Aku menatap Kalung Hati itu sejenak, mengenang janji ibuku bahwa berlian itu akan memberiku keberuntungan. Kali ini, aku tidak akan mengandalkan keberuntungan. Aku akan mengandalkan kekejaman terencana. Dengan tangan mantap, aku memasukkan kalung itu ke dalam tas kecil. Hari ini, aku tidak akan mencari toko gadai. Aku akan mencari penaksir yang akan memberiku harga pasar yang adil. Aku harus bergerak cepat sebelum Leo mulai menyadari bahwa penolakanku lebih dari sekadar emosi kekasih yang merajuk, melainkan deklarasi perang yang terstruktur. Aku mengunci pintu. Di luar, bunga lili putih yang ditinggalkan Leo mulai layu di bawah sinar matahari pagi. Aku meninggalkannya di sana. Aku tidak akan pernah membawa racun ke dalam rumahku lagi. Babak kedua telah dimulai, dan ini adalah babak Kapital Darurat. Aku harus menjadi kaya. Sangat kaya. Dengan cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN