Bab 3

1337 Kata
Ketenangan yang menyelimuti apartemenku setelah kepergian Leo terasa seperti vakum, menusuk hingga ke tulang. Tidak ada lagi teriakan, tidak ada lagi gedoran, hanya keheningan yang dingin. Keheningan yang menuntut pertanggungjawaban. Aku telah memenangkan pertempuran kecil pemutusan ikatan emosional dan fisik. Tapi aku tahu, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan di medan perang ini, emosi adalah racun paling mematikan. Aku berjalan ke dapur, menuang segelas air putih dingin. Saat minum, aku menatap laptop yang menampilkan saldo rekening bankku: $117.43. Angka yang menyedihkan. Di kehidupan lama, pada titik waktu ini, aku tidak peduli dengan angka itu. Aku percaya bahwa Leo dan Innovatech adalah jaring pengamanku. Kepercayaan itu hampir membunuhku. Aku duduk di kursi, tanganku terasa berat. Leo benar dalam satu hal yang brutal: tanpa modal, aku hanyalah seorang wanita dengan ide gila. Kebebasan membutuhkan biaya. Balas dendam membutuhkan kapital. Aku membuka lembar kerja Excel kosong, menamainya 'Blueprint Ascend Kapitalisasi Awal'. Aku memasukkan target: $500,000 dalam enam bulan. Itu adalah jumlah minimum untuk menyewa kantor kecil, merekrut Deka, dan mulai menyusun prototipe Ascend. Bagaimana cara mendapatkan $500,000 dari $117? Aku harus memanfaatkan keunggulan kompetitifku yang tidak adil: pengetahuan masa depan. Aku mulai mengetikkan empat nama saham yang akan menjadi legenda dalam waktu enam bulan ke depan, saham yang di masa lalu membuatku menangis menyesal karena tidak membelinya. Mereka adalah perusahaan teknologi kecil yang berfokus pada integrasi AI untuk komputasi awan, bidang yang akan meledak karena revolusi Hyper-Cloud yang akan kucetuskan melalui Ascend. Aura Robotics. Vertex AI Systems. Quartus Solutions. Dan yang paling gila, Zero-Latency Corp. Aku tahu harga beli mereka saat ini sangat rendah—harga 'tidur'. Aku tahu mereka akan meroket 100 kali lipat, 500 kali lipat, bahkan 1,000 kali lipat. Masalahnya adalah, mereka akan membutuhkan waktu setidaknya enam bulan untuk mencapai lonjakan itu, dan aku harus menanam modal sekarang. Aku menghitung ulang. Jika aku bisa menanam $5,000, dan harga rata-rata mereka naik 100 kali lipat dalam enam bulan, itu akan menjadi $500,000. Jumlah yang sempurna. Uang $5,000 itu adalah modal awal yang kritis. Aku melihat kembali saldo $117. Uang itu tidak cukup bahkan untuk membeli satu lot penuh dari Zero-Latency Corp. Aku membutuhkan Kalung Berlian Hati itu. (Kilas Balik - 45 Detik) Aku ingat duduk di apartemen yang dingin di kehidupan lama, satu bulan sebelum kebangkrutan total. Aku melihat berita di layar ponsel yang retak. Headline-nya berbunyi: "Aura Robotics dan Vertex AI Mencapai Valuasi Miliaran, Mendorong Sektor Hyper-Cloud." Aku ingat betapa pahitnya rasa kopi itu. Aku telah melihat laporan awal tentang perusahaan-perusahaan ini ketika mereka masih bernilai sen, tetapi Leo selalu melarangku berinvestasi, mengatakan itu adalah Aku hanya bisa menyesali, mengapa aku tidak pernah berani bertindak sendirian? Aku bersumpah saat itu: jika aku mendapat kesempatan, aku akan mengambil risiko terbesarku. Aku menarik napas dalam-dalam, mengakhiri kilas balik. Rasa penyesalan itu sekarang menjadi pemandu. Aku mengambil tas kecil yang berisi kalung ibuku, meninggalkan apartemen, dan menuju distrik finansial yang ironisnya hanya berjarak beberapa blok dari gedung Imperium Group milik Rian Aksara (calon mentorku, meskipun aku belum tahu itu). Aku mencari penaksir independen yang terpercaya, bukan toko gadai murahan. Aku menemukan 'Harun Emas & Permata', sebuah toko kecil namun berkelas yang tersembunyi di lantai dua sebuah gedung tua. Aroma kayu cendana dan bau logam mulia menyambutku. Seorang pria paruh baya, Tuan Harun, dengan kacamata baca tergantung di ujung hidungnya dan sarung tangan katun putih, menyambutku. "Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya, suaranya tenang dan profesional. Aku meletakkan tas kecil itu di meja kaca yang dilindungi. "Saya ingin menjual ini. Dan saya ingin harga pasar yang adil. Tidak ada negosiasi yang membuang waktu." Tuan Harun mengambil tas itu, gerakannya lambat dan penuh penghormatan, seolah dia sedang menangani benda-benda suci. Dia membuka beludru biru kusam dan melihat Kalung Berlian Hati itu. "Ah, Berlian Hati. Potongan yang sangat klasik. Bukan barang baru, tapi berliannya berkualitas tinggi. Warisan keluarga, saya duga?" Tanyanya, tatapannya beralih dari kalung ke wajahku. "Ya. Peninggalan ibu saya," jawabku singkat, mencoba menjaga suaraku stabil. Aku tidak ingin ada simpati. Simpati adalah kelemahan. "Peninggalan... Dan Anda ingin menjualnya secepat ini? Mengapa?" Tuan Harun menuntut, nadanya tidak menghakimi, hanya ingin tahu. "Karena sentimentalitas adalah kemewahan yang tidak mampu saya beli saat ini, Tuan Harun," kataku, menjaga kontak mata. "Ini adalah kapital darurat. Dan saya butuh modal secepatnya." Tuan Harun tersenyum tipis. "Sebagian besar orang yang menjual perhiasan keluarga akan menceritakan kisah tragis. Hutang, pengobatan, atau kebangkrutan. Anda terdengar seperti seorang investor yang sedang kekurangan likuiditas." "Anggap saja begitu," balasku. "Saya butuh $5,000 bersih. Bisakah Anda menaksirnya?" Tuan Harun mulai memeriksa berlian itu dengan kaca pembesar profesional. Cahaya dari lampu di atasnya memantul, membuat potongan hati itu tampak hidup, seperti detak jantung yang terpisah dari tubuh. "Berdasarkan kualitas dan karatnya, harga ritelnya bisa mencapai $8,000. Tetapi sebagai pembeli, saya akan menawar Anda $5,500. Ini bukan toko gadai, Nona. Kami membeli berdasarkan nilai intrinsik." Jantungku berdebar sedikit. $5,500. Lebih dari yang kubutuhkan. "$5,500 tunai. Sekarang juga," tegasku. "Atau transfer bank yang instan." Tuan Harun melepaskan kacamata bacanya. "Anda sangat tergesa-gesa. Apakah Anda sedang mengejar batas waktu di pasar saham? Jika ini adalah modal investasi, mengapa tidak mengambil pinjaman? Perhiasan ini bisa menjadi jaminan yang sangat baik." Aku menggeleng. "Pinjaman membutuhkan waktu, dan jaminan akan terikat. Saya membutuhkan uang ini, hari ini, di tangan saya, untuk ditanam. Waktu adalah satu-satunya mata uang yang saya miliki, Tuan Harun, dan saya tidak punya waktu untuk proses birokrasi." "Waktu memang uang," gumamnya, tampaknya menghargai kegigihanku. "Tetapi saya harus mengingatkan Anda. Berlian, terutama yang memiliki nilai sentimental, adalah jangkar. Ketika Anda melepaskannya, pastikan Anda siap menghadapi badai sendirian." Aku mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Saya tidak melepaskannya, Tuan Harun. Saya mengorbankannya. Dan saya tidak membangun perahu untuk menghadapi badai; saya membangun kapal selam. Saya tidak akan sendirian. Saya akan memiliki sebuah kerajaan." Tuan Harun menatapku lama. Ada rasa hormat yang samar di matanya, tetapi juga sedikit rasa kasihan yang kuhindari. "Baiklah, Nona. Anda memiliki visi yang kuat. Saya akan membuat transfer instan ke rekening Anda. Bisakah saya mendapatkan detail bank Anda?" Aku memberikan detail rekeningku yang menyedihkan. Dalam waktu lima menit, ponselku berbunyi. Aku melihat notifikasi. Saldo rekening bankku kini menunjukkan $5,617.43. Tuan Harun dengan lembut meletakkan Kalung Berlian Hati itu ke dalam kotak penyimpanan di bawah mejanya. "Jika suatu hari Anda sukses, Nona, dan Anda ingin membelinya kembali... Anda tahu di mana menemukannya. Kami menyimpan catatan kepemilikan. Saya percaya, suatu hari Anda akan sangat merindukan jangkar ini," katanya, suaranya kembali lembut. "Saya akan membeli kembali banyak hal, Tuan Harun. Tapi saya tidak akan membeli kembali Yura yang dulu," balasku, berdiri tegak. "Yura yang dulu terbuat dari sentimentalitas dan janji kosong. Yura yang sekarang terbuat dari baja dan jutaan dolar." Aku memberinya anggukan singkat, meninggalkan Harun Emas & Permata. Pengorbanan emosional itu terasa pahit, tetapi juga membebaskan. Itu adalah pengakuan bahwa masa lalu harus mati sepenuhnya agar masa depan bisa bangkit. Aku kembali ke apartemen, adrenalin masih mengalir deras. Aku tidak punya waktu untuk merenungkan kepergian berlian itu. Uang itu harus segera bekerja. Aku membuka platform trading. Keempat saham itu tampak kusam, harganya masih di dasar. Aku mengalokasikan $1,300 untuk masing-masing saham, menyisakan sedikit untuk biaya transaksi dan kebutuhan hidup mendesak selama enam bulan ke depan. Aku menatap layar. Ini adalah langkah pertama, langkah yang tidak bisa ditarik kembali. Ini adalah pertaruhan terbesar dalam hidupku. Aku mempertaruhkan Kalung Hati ibuku, trauma masa laluku, dan pengetahuan masa depanku yang tidak logis. Aku mendekatkan jari telunjuk ke tombol 'Beli' di layar, tepat di bawah nama 'Zero-Latency Corp'. Rasanya seperti menekan tombol nuklir. Tidak ada Leo yang bisa kukhawatirkan. Tidak ada Innovatech yang bisa menahanku. Hanya aku, kebebasanku, dan empat saham yang akan meledak. Aku menekan tombol Beli. Serentak, aku melihat notifikasi pembelian muncul di keempat saham. Transaksi selesai dalam milidetik. Aku bersandar di kursi, mata terpejam. Tangan kiriku masih bisa merasakan dinginnya berlian yang baru saja kulepaskan. Tetapi tangan kananku, yang baru saja menekan tombol itu, kini terasa hangat, dipenuhi potensi dan janji balas dendam. Aku telah menanam benih kehancuran Innovatech dan kebangkitan Ascend. Sekarang, yang harus kulakukan hanyalah menunggu enam bulan, dan membiarkan pasar melakukan sisanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN