Bab 4

1175 Kata
Dua belas ribu delapan ratus tujuh puluh lima. Itu adalah jumlah transaksi yang kubuat untuk membeli empat saham ‘sleepers’ itu. Dalam milidetik, $5,200 modal kritiskku telah berubah menjadi aset digital yang menunggu untuk berevolusi. Aku menutup laptop, bukan karena pekerjaan selesai, tetapi karena fase ini membutuhkan jeda. Benih sudah ditanam. Sekarang aku harus merancang pohon yang akan tumbuh dari benih itu. Aku pindah dari meja ke sofa, membawa buku sketsa lamaku. Selama bertahun-tahun, buku ini penuh dengan coretan ide yang Leo anggap "terlalu ambisius" atau "tidak realistis". Sekarang, ide-ide itu adalah peta jalan menuju kehancurannya. Tujuan finansialku untuk enam bulan ke depan sudah jelas: $500,000. Tujuan profesionalku harus lebih tajam dari sebilah pisau cukur: Ascend. Aku mengambil pensil, menatap halaman kosong. Ascend bukan sekadar perusahaan. Ascend adalah pernyataan. Aku mulai menulis, seolah sedang menyusun manifesto. "Ascend: The Next Generation of Hyper-Cloud Computing." Aku membuka rekaman suara di ponselku. Aku memutuskan untuk memvisualisasikan seluruh perencanaan ini sebagai sesi tanya jawab formal. Aku harus meyakinkan diriku sendiri sebelum meyakinkan siapa pun di dunia luar. Ini adalah latihan penting untuk membangun fondasi mental yang kebal peluru. "Oke, Yura. Anggap ini adalah sesi strategi pertama Ascend," kataku pada diri sendiri, suaraku terdengar dingin dan profesional di rekaman itu. "Pertanyaan pertama: Apa yang membuat Ascend berbeda dari Innovatech? Apa yang membuat Ascend bernilai lebih dari sekadar balas dendam?" Aku menunggu beberapa detik, membiarkan pertanyaan itu menggantung. Lalu aku menjawab, "Innovatech fokus pada solusi cloud yang terisolasi dan tertutup. Mereka menjual kotak dan ruang penyimpanan. Mereka kaku. Ascend harus menjual integrasi, kecepatan, dan prediksi. Kita akan membangun Hyper-Cloud yang didukung oleh AI yang dapat memprediksi kebutuhan komputasi pelanggan bahkan sebelum mereka tahu mereka membutuhkannya. Kita tidak hanya menyediakan ruang; kita menyediakan kecerdasan." Aku melanjutkan, memainkan peran sebagai skeptis. "Itu bagus dalam teori. Tapi teknologi itu terlalu canggih untuk pasar saat ini. Kita lima tahun di depan. Bukankah itu risiko? Mengapa tidak memulai dengan produk yang lebih aman dan mudah dicerna pasar?" Aku mencengkeram pensilku lebih erat. "Karena kecepatan adalah satu-satunya keunggulan kompetitifku. Di kehidupan lama, aku melihat pesaing yang terlalu lambat untuk berinovasi dihancurkan oleh perusahaan yang lebih cepat, bukan yang lebih besar. Kita tidak bisa menunggu pasar siap. Kita harus memaksa pasar untuk siap." (Kilas Balik - 1 Menit) Di kehidupan lamaku, sekitar tahun ketiga setelah kebangkrutan, aku bekerja sebagai analis data lepas. Salah satu klienku adalah sebuah startup ambisius yang mencoba meluncurkan teknologi Hyper-Cloud serupa. Mereka terlalu fokus pada kesempurnaan dan etika pengembangan produk yang ketat. Mereka menunggu untuk meluncurkan produk hingga semua celah dihilangkan, hingga semua paten dipastikan. Saat mereka akhirnya siap, Innovatech, dengan cara yang kotor dan cepat, telah meluncurkan versi beta yang jauh lebih kasar tetapi lebih cepat. Startup itu tewas dalam enam bulan. Aku ingat CEO-nya yang hancur, mengatakan padaku, "Yura, kami terlalu jujur, terlalu lambat." Itu adalah pelajaran yang brutal: keunggulan teknologi tanpa kecepatan implementasi adalah ide yang mati. "Kita harus bergerak dengan kecepatan yang mematikan," lanjutku, berbicara ke rekaman. "Ini membawa kita ke konflik utama: Jalan mana yang kita ambil? Jalur teknologi murni, atau jalur teknologi yang agresif secara finansial?" Aku mulai membuat daftar di buku sketsaku: PILIHAN A: TEKNOLOGI MURNI (AMAN) Fokus pada R&D yang ketat dan etis. Pendanaan kecil dari Angel Investor tradisional. Pertumbuhan lambat, stabil, dan terjamin secara hukum. Waktu yang dibutuhkan untuk menghancurkan Innovatech: 8-10 tahun. PILIHAN B: AGRESIF FINANSIAL (BERBAHAYA) Prioritaskan kecepatan dan akuisisi pasar, meskipun harus mengorbankan etika bisnis minor. Mencari investor besar, 'hiu', yang menuntut hasil instan. Menggunakan taktik paten dan hukum yang berisiko. Waktu yang dibutuhkan untuk menghancurkan Innovatech: 3-5 tahun. "Jika tujuanku hanya kebebasan, aku akan memilih Pilihan A," kataku ke rekaman, suaraku sedikit bergetar karena pengakuan. "Aku bisa membangun perusahaan yang solid, hidup nyaman, dan menjauhi Leo. Tapi aku tidak hanya ingin bebas. Aku ingin dia melihat kerajaannya runtuh, dan aku ingin dia melihatku yang melakukannya." "Untuk itu," lanjutku, "kita membutuhkan Pilihan B. Kita membutuhkan kecepatan dan kebrutalan finansial. Kita harus menjadi perusahaan yang tidak hanya membangun teknologi, tetapi juga memanipulasi pasar." Aku memainkan peran sebagai penentang. "Pilihan B berarti kita harus berurusan dengan orang-orang yang kejam. Orang-orang seperti... Leo. Orang-orang yang akan menuntut saham besar dan kontrol mutlak. Bukankah itu mengulangi kesalahan masa lalu?" Aku menggeleng, meskipun tidak ada yang melihat. "Kesalahan masa lalu adalah aku menyerahkan kendali dan menjadi subordinat. Kali ini, aku akan mencari hiu, tetapi aku akan menjadi hiu yang lebih besar. Aku akan menggunakan kekejaman mereka, dan aku akan mengendalikan mereka. Aku tidak akan pernah lagi menjadi korban dalam kemitraan." "Dan hiu seperti apa yang akan menerima ide yang lima tahun terlalu cepat dan didorong oleh wanita tanpa koneksi?" tanyaku lagi, nada suaraku tajam. "Hiu yang lapar. Hiu yang melihat potensi pengembalian 1,000 kali lipat. Hiu yang tidak peduli dengan latar belakang, hanya dengan hasil. Hiu yang suka bermain kotor." Aku menyeringai kecil. "Kita membutuhkan Rian Aksara. Kita belum mengenalnya, tapi kita harus mencarinya. Dia adalah manifestasi dari Pilihan B. Dia adalah kecepatan, kebrutalan, dan kekayaan yang tak terbatas. Dia adalah iblis yang tepat untuk diajak bersekutu." Aku menghela napas, menyelesaikan sesi rekaman strategi. Keheningan kembali memenuhi ruangan. Aku telah membuat keputusan. Ascend tidak akan menjadi rumah kaca yang rapuh. Ascend akan menjadi benteng perang. Aku beralih ke desain visual. Bagaimana perusahaan yang kejam dan canggih ini harus dilihat? Logo harus mencerminkan filosofi baruku. Aku mulai menggambar. Lingkaran. Kemudian, segitiga yang terbalik. Tidak, terlalu biasa. Lalu aku memikirkan tentang keunggulan tentang apa yang tidak terlihat di bawah permukaan. Aku mulai menggambar sebuah gunung es. Di atas permukaan, bentuknya ramping, putih, elegan simbol dari teknologi yang bersih dan futuristik. Tetapi di bawah garis air, di bagian yang tersembunyi, aku menggambarnya lebih besar, gelap, dan tajam, sebuah massa es yang mematikan yang bisa menenggelamkan kapal tanpa peringatan. Aku menatap gambarku. Estetika dan keganasan yang sempurna. "Apa yang terlihat, itu hanya sepuluh persen dari kita," bisikku, mengacu pada Leo yang hanya melihat wanita rapuh di masa lalu. "Sembilan puluh persen yang tersembunyi adalah yang akan menghancurkan mereka." Aku menulis nama di bawah sketsa itu dengan huruf kapital tebal: ASCEND. Aku mematikan lampu, tetapi cahaya dari layar laptop masih memantul. Aku membuka platform trading lagi. Keempat saham itu, Aura, Vertex, Quartus, dan Zero-Latency, masih bergerak lambat, tidak menarik perhatian siapa pun. Mereka adalah benih yang tertanam di kegelapan. Aku membiarkan mataku terpaku pada harga Zero-Latency Corp. Aku tahu, enam bulan dari sekarang, harga ini akan menjadi lelucon. Tapi enam bulan terasa seperti keabadian. Aku menutup laptop. Balas dendamku membutuhkan lebih dari sekadar uang; ia membutuhkan arsitektur yang kuat dan logo yang brutal. Aku bangkit dan berjalan ke jendela. Di kejauhan, menara Imperium Group milik Rian Aksara menjulang tinggi, sebuah monolit yang tampak dingin dan tak tersentuh. Aku tahu, pintu masukku ke sana akan membutuhkan keberanian yang lebih besar daripada sekadar menjual perhiasan ibuku. Aku menyentuh kaca jendela, merasakan dinginnya. Aku bukan lagi Yura yang menangis dan meminta maaf. Aku adalah operator yang fokus, memegang cetak biru kehancuran dan kebangkitan. "Enam bulan," gumamku, menatap menara itu. "Sampai kita bertemu, Tuan Aksara. Sampai Ascend bisa menunjukkan bagian mematikan dari gunung es ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN