33

568 Kata
"Gue? Gue gak apa -apa. Cuma aneh aja sama loe!! Kena pelet apa? Sampe loe mau sama Pak Aji dengan mudahnya. Loe gak lihat? Loe sama Marsha itu jauh beda. Bagaikan langit dan bumi," tegas Jenny yang mulai meluapkan kekecewaannya pada Puri. "Oh ... Jadi maksud kamu? Aku jelek gitu?" tanya Puri semakin emosi. "Gue gak bilang gitu ya. Loe yang menafsirkan sendiri," ucap Jenny terdiam. Ini yang di takutkan ia salah ucap. Tatapan kedua sahabat itu semakin tajam dan semakin jelas sedang terjadi perseturuan besar. Puri menggebrak mejanya dengan sangat kasar lalu pergi dari tempat itu. Puri pergi pulang ke rumah ibunya, ia tidak kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaannya. *** Puri sampai di rumah orang tuanya. Ibu Puri sedang memasak dan begitu kaget melihat Puri yang tiba -tiba masuk dan menyapanya lalu masuk ke dalam kamar tidurnya. "Bu .. Puri mau tidur, jangan ganggu ya,." ucap Puri dengan suara lantang. Ibu hanya menggeleng -gelengkan kepalanya dan melanjutkan masak di dapur. Mungkin setelah selesai masak, Ibu akan cari tahu titik permasalahannya apa. Semua makanan sudah tersaji di meja makan, dan menunggu waktu makan malam tiba. Langkah Ibu Puri pelan menuju kamar Puri yang sejak tadi tidak ada pergerakan apapun. Mengambil minum pun tidak. Ibu Puri sudah membawakan satu gelas teh panas manis dengan kue onde -onde isi kacang hijau kesukaan Puri. Tok ... Tok ... Tok ... "Puri ... Puri .... Nak ...." panggil Ibu Puri dengan suara lembut dan begitu pelan. Ibu Puri mencoba membuka pintu kamar itu dan terbuka. Pintu kamarnya tidak di kunci. Biasanya, Puri kalau lagi ngambek, pintu kamarnya di kuncio rapat dan keluar pada malam hari saat perutnya mulai minta di isi makanan. Ibu Puri menatap anak gadisnya yang baru saja menikah dengan senyuman penuh ketulusan. Gadis itu masih sama, seperti gadisnya sebelum menikah. Tidak bisa rapi dan melempar smeua barang secara asal -asalan. Langkah Ibu Puri pelan meghampiri ranjang tidur Puri dan duudk di tepi ranjang itu sambil mengusap lembut kepala dan rambut Puri untuk membangunkan gadisnya. "Bangun sayang, udah sore, gak pulang ke rumah suami kamu," ucap Ibu Puri menasehati. Ibu Puri tahu, Puri sudah terbangun saat Ibu Puri masuk ke dalam kamar tersebut. Tapi, Puri sengaja diam dan tidak bicara. "Dosa lho, ninggalin suami tanpa keterangan yang jelas," ucap Ibu Puri semakin menjelaskan secara detail. "Apaan sih Bu, malah bawa -bawa dosa segala," ucap Puri lirih sambil membuka kedua matanya dan menegakkan duduknya lalu bersandar pada tumpukan bantal tidurnya. "Lhoo ... Itu nyata. Ibu berhak ngusir kamu dari rumah ini, karena kamu saat ini sudah menjadi tanggung jawabnya Aji. Masih mending Ibu boelhin kamu masuk, dan tidur nyenyak di kamar ini," ucap Ibu Puri pelan. Puri memutar kedua bola matanay dnegan malas dan mengerucutkan bibirnya kesal. "Ini kan masih kamar Puri juga. Anak Ibu kan cuma Puri. Memang kamara Puri ini mau di kasihkan ke siapa?" cicit Puri kesal. Ibu Puri hanya terkekeh pelan dan menyodorkan satu gelas teh manis hangat pada Puri. "Ini minum dulu, biar anget badanya. Biar tenang pikirannya, dan biar adem hatinya," ucap Ibu Puri pelan. Puri mengambil gelas teh hangat itu dan menyeruput dengan sanagt enak sekali. "Ahhhh ... Bener Bu. Seger," ucap Puri pelan dan meletakkan kembali gelasnya ke nakas dekat tempat tidurnya. "Enak kan. Nah sekarang waktunya kamu cerita. Kenapa kamu malah pulang kesini, bukannya Aji sudah ada tempat tinggal walaupun di kost? Hem, Coba jelasin sama Ibu," ucap Ibu Puri penasaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN