Saat Puri pergi untuk memesan makan siang di bagian depan. Jenny langsung mengambil kesempatan bertanya sepua- puasnya pada Aji. Banyak hal yang ingin ia tanyakan soal hubungannya dengan Puri yang begitu cepat dan mendadak menikah. Memang terkesan ada kecelakaan atau MBA (Married By Accident). Jadi wajar kalau banyak orang berpikir jelek dan bertanya -tanya soal kedekatan PAk Aji dan Puri yang terlihat aneh bagi mereka.
Jenny menatap Aji dengan lekat dan sangat tajam. Karena sudah kehausan. Aji pun langsung mengambil minuman istrinya di samping tangannya dan menyeruput hingga habis setengah gelas.
Tug ...
Pandangan Aji kini beralih ke arah Jenny yang memelotinya sejak tadi hingga membuat dirinya bingung.
"Ngapain loe melototin gue? Berasa tersangka," ucap Aji penuh rasa kesal pada Jenny yang menatap tajam tak berkedip.
"Emang loe tersangka!! Loe gak sadar sudah mainin perasaan Puri!! Gue gak ngerti sama jalan pikiran loe, Ji!! Loe ambil kesempatan di saat Puri merasa terpuruk dan loe berpura -pura jadi malaikat yang mengangkat Puri dari genangan lumpur? Gitu?" teriak Jenny kesal. Sampai saat ini, Jenny tidak peranh tahu alasan Puri dan Aji menikah. Tiba -tiba saja kepulangan mereka dari tugas kantor dari Pulau Dewata, Puri menghubungi Jenny untuk datang ke hall room hotel karena dirinya telah menikah dengan Aji.
Jelas, Jenny sebagai sahabat sama sekali tidak percaya dengan kabar miring itu. Tapi setelah melihat kenyataannya memang benar smeua cerita itu. Tapi soal hati? Apa bisa di ketahui kejujurannya? Ketulusannya?
"Kenapa loe yang repot? Gue tyang nikah sama Puri. Biar Puiri yang menilai gue orang bener atau gak!! Loe cuma sahabat dan gak lebih dari itu. Jdi gue gak butuh penilaian loe,, Jenn. Gue kecewa sama loe yang menilai gue dari sisi keburukan," ucap Aji dengan kesal. Ia pun segera pergi dari tempat itu dan meningalkan Jenny tanpa pamit.
Tak lama, puri datang dengan membawa satu nampan makan siang untuk Aji. Dari kejauhan Puri menatap ke arah mejanya. Di sana hanya ada Jenny sendiri yang menatap kosong ke arah depan.
"Hei ... Pak Aji mana? Lagi ke kamar mandi?" tanya Puri dengan suara lembut kepada Jenny yang membuat Jennu sinis menatap Puri.
"Gue gak tahu Pak Aji kemana!! Loe kenapa sih? Terima Pak Aji? Sampai mau di ajak nikah segala? Loe gak mikir kalau suatu hari Arka bakal datang dan minta balikan sama loe? Loe kan cintanya sama Arka," ucap Jenny dengan sedikit nyinyir.
Puri menatap Jenny lekat. Puri merasa aneh saja. Tadi tak ada masalah dengan Jenny. Kenapa sekarang tiba -tiba sahabatnya itu mempersalahkan hal ini. Toh, pernikahan mereka sudah dua hari yang lalu. Dan Puri menikmati masa -masa indah sebagai pengantin baru dnegan Aji. Mereka sudah melakukan hubungan suami istri dan berharap segera punya momongan dan Aji sudah mengungkapkan keinginannya untuk masa depan sebagai tujuan hidup.
"Kamu kenapa sih, Jenn? Kemarin perasaan kamu gak ada mempermasalahkan masalah ini? Kenapa sekarang seoalh jadi masalah sama kamu? Atau jangan -jangan kamu juga salah satu dari mereka? Gak suka lihat aku bahagia sama Pak Aji? Apa jangan -jangan kamu suka sama Pak Aji? Aku malah curiga sama sikap kamu yang kayak gini?" ucap Puri makin kesal dan tersulut emosi.