Tatapan Puri begitu tajam ke arah Farida yang begitu nyinyir kepada dirinya.
"Sudah puas ngomongnya? Apa masih mau ngomong? Hah?" teriak Puri makin kesal.
Farida mengibaskan rambutnya yang panjang dan tertawa sinis ke arah Puri. Lalu berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Puri dan Jenny. di meja tempat Puri sedang menikmati makan siangnya.
"Sudah Ri. Duduk dulu. Loe harus sabar," ucap Jenny menasehati.
Puri terdiam dan melanjutkan makan siangnya. Ia sedang malas berbicara dengan siapa pun saat ini. Rasanya ucapan semua teman -temannya menguras emosi Puri hari ini.
"Puri sejelek itu? Sampai kayak gak pantes bareng sama Pak Aji. Kayak gak cocok dampingi Pak Aji," ucap Puri pelan.
"Siapa yang bilang? Itu kan hanya perasaan loe aja. Loe itu cantik, kecantikan loe itu alami, cantik luar dalam yang belum tentu semua orang itu bisa kayak loe," ucap Jenny menasehati.
"Ya ... Itu kan menurut loe, Jen. Orang juga berhak punya pandangan dan penilaian yang berbeda kepada Puri. Secara kamu setiap hari sama Puri, jadi kenal betul Puri kayak gimana? Iya kan? Beda dengan mereka yang gak paham sama Puri, yang menilai Puri mungkin dari luarnya aja," ucap Puri melemah.
Puri menggulung bihun goreng miliknya dan di masukkan ke dalam mulutnya lalu di kunyah dengan cepat seperti orang rakus dan kelaparan. Ia masih kesal dan emosi.
Ternyata bukan hanya Farida saja yang melakukan hal itu pada Puri. Beberapa pasang mata di kantin itu menatap sinis ke arah Puri.
"Hai ... Kok saya di tinggalin sendirian sih? Kamu lupa sama saya, Ri? Kamu kan harus kasih saya makan siang, kalau gak bisa nyiapin, minimal ajak saya ke kantin dong," cicit Aji yang terdengar manja pada Puri.
Puri memutar kedua matanya dengan malas. Terkadang Aji itu terkesan lebay dan kekanak -kanakkan tapi terkadang ia nampak garang dan arogan sekali.
"Pak Aji kan bisa beli sendiri. Bisa pesen lewat OB, bisa pergi sama teman -teman Pak Aji biasanya. Terus? Kenapa mensti saya?" tanya Puri pelan sambil menyeruput minumnya.
"Lho ... Saya kan suami kamu. Kamu lupa? Ini buktinya? Apa saya harus bawa buku nikah setiap pergi dengan kamu?" tanya Aji merasa Puri aneh. Aji menunjukkan cincin nikahnya pada Puri.
Tangan Puri langsung menurunkan tanga Aji agar tak di lihat banyak orang.
"Udah ah ... Turunin tangannya. Pak Aji mau makan apa?" tanya Puri pelan.
"Apa saja terserah istri kesayangan yamg mau menyiapkan untuk suaminya. Lagi pula uang kan kamu yang bawa semua, makanya saya gak bisa beli," ucap Aji pelan menatap sendu ke arah Puri dengan memelasnya.
"Iya. Maaf, Puri lupa Pak. Makanya Bapak aja yang bawa ATMnya sendiri. Puri kan punya uang sendiri buat jajan Puri sendiri," ucap Puri santai sambil mengeluarkan kartu ATM milik Aji.
"Kamu apa -apaan sih, Ri? Saya kan cuma bilang, kalau saya memang gak pegang uang. Lagi pula kan gak salah juga, kalau suami ingin makan bersama dengan istrinya?" ucap Aji pelan.
"Iya gak salah. Ya sudah, Puri mau pesen amkan siang buat Pak Aji. Jenny, titip ya, jangan sampai kecantol sama cantolan," ucap Puri terkekeh lalu pergi dari meja makannya.
Aji dan Jenny hanya melempar senyum dan saling berpandangan sambil menggelengkan kepala mereka pelan. Puri sangat aneh sekali.