30

630 Kata
Puri sedang serius dnegan pekerjaannya dan persiapan untuk rapat interen. Biasanya kalau Pak Aji memanggil untuk rapat pasti ada sesuatu yang terjadi di divisinya. Beberapa catatan kecil dan laporan yang sudah di buat sebelum keberangkatan dinas pun sudah Puri siapkan untuk materi rapat interen nanti. "Gadis kurus murahan, gue harap loe lepasin Pak Aji, sebelum loe di amuk sama banyak orang di gedung ini," ucap Anggun kasar. "Loe ngomong apa sih Nggun? KOk gue gak paham? Loe udah siapin materi buat rapat belum? Jangan sampai Pak Aji gak mau lagi lihat loe karena loe gak bisa kerja. Ini tinggal setengah jam lagi. Mending loe kerja yang baik ya, biar di syaang Pak Aji," ucap Puri dnegan suara lantang. Jenny membawa berkas dan menatap tajam ke arah Anggun. "Loe ngapain? Belum puas dari tadi ganggu Puri?" tanya Jenny pelan sambil membersihkan kotoran yang ada di blazer Anggun. "Jangan pegang -pegang baju gue. Virus!! Bakteri juga!!" tegas Anggun dengan suara kencang. "Ekhemmm ... Oke. Itu banyak ketombe. Malu dong, kalau di lihat banyak orang? Tapi ya udah, biar loe malu," ucap Jenny ketus. "Hah? Ketombe? Mana ada ketombe? Serius loe Jenn?" teriak Anggun yang langsung kalang kabut dan pergi begitu saja dari bilik kerja Puri. Jenny tersenyum pada Puri dan Puri membalas senyuman itu dengan satu kedipan mata. "Makasih ya, Jen," ucap Puri pelan. *** Tepat pukul sembilan pagi, Puri dan Jneny sudah duduk di meja rapat seperti biasa di ruangan Pak Aji. Aji sudah duduk manis dan menatap layar laptop dengan wajah serius, sambil mengusap dagunya yang bersih tanpa brewok. Puri dan Jenny duduk sesuai dengan nama bilik mereka dan bagian yang mereka pegang. "Pak Aji, makasih buburnya, enak," ucap Jneny pelan dan langsung mendapat toyoran keras dari Puri yang tak suka dengan kejujuran Jenny. "Hemm ... Kamu gak sarapan? yakin bisa ikut rapat dan konsentrasi?" tanay Aji pada Puri. "Bisa Pak. Kan ada Aqua, jadi gak gagal fokus," ucap Puri pelan. "Baik Mbak Puri," jawab Aji terkekeh. "Hah? Mbak Puri.? Sekarang di panggilnya Mbak Puri?" tanya Jenny ikut terkekeh hingga beberapa orang penting yang di undang Aji pun masuk kedalam dan emnatap Aji serta Jenny yang cekikikan tak jelas. Puri tetap diam dan santuy. "Jadi rapat atau mau cekikikan di sini? Kalau gak jadi rapat, Puri mau ijin ke kantin sebentar," ucap Puri pelan. "Mbakl Puri mau beli apa?" tanya Jenny menanggapi dan tertawa lagi. Aji pun masih mengusap air amta karena terkekeh dengan geli mendengar dan mengucapkan kata Mbak Puri. Puri mentaap Aji tajam. Ia tak suka dirinya di jadikan bahan candaan. "Oke kita mulai. Jenny serius," tegas Aji yang langsung diam tak tertawa sama sekali. "Siap Pak Aji. Kita mulai dari mana," ucap jenny mulai serius. Rapat interen itu ternyata membahas satu program yang akan dilakukan di tim Aji. Merek akan di gembleng oleh satu materi kemudian berhak untuk menjadi tutor bagi anak -anak magang yang baru. *** Puri sudah berada di kantin siang ini. Perutnya mulai terasa lapar, karena sejak pagi memang tidak makan dan hanya minum air saja. "Loe gak makan siang sama Pak Aji," tanya Jneny pelan saat mulai makan nasi padang. "Males," jawab Puri kesal sambil menikmati bihun goreng seafood kesukaannya. Keduanya menikmati dengan sanagt enak dan tioba -tiba ada seorang perempuan yang duduk di samping Puri lalu mmeperhatikan cincin Puri. "Cincin loe bagus? Ternyata loe itu sama bejatnya kayak Marsha ya? Cuma cari sensasi dan cari sesuatu yang loe gak punya," ucap Farida ketus. "Marsha? Siapa Marsha? Gue gak kenal," ucap Puri santai. "Ohhh gak kenal. Berarti cerita tadi pagi juga hanya akal -akalan kamu saja? maunya kamu? Pantes Pak Aji gak ada wajah senang sama sekali. Gimana gue gak bilang murahan? Kalau loe puas di pegang -pegang sama Pak Aji?" ucap FArida nyinyir sekali. Puri meletakkan garpunya dan menarik napas dalam sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN