29

893 Kata
Puri menarik napas panjang saat keluar dari pintu lift. Semua mata memandang sinis ke arah Puri. Memang tidak ada yang menyindir tapi raut wajah mereka seolah meminta penjelasan lebih lanjut atas kebucinan AJi terhadap Puri. Lihat saja, Aji masih tetap menggenggam tangan Puri dnegan erat. Memang kalau laki -laki tidak pernah tahu perasaan wanita. Aji adalah karyawan teladan yang pantas di idolakan. Semua perempuan jomblo di gedung ini menyukai paras indah milik Aji. Tak hanya itu, tubuh atletis Aji juga menjadi salah satu alsan kenapa para wanita meleleh saat melihat Aji. Hari ini, semua harapan para wanita itu di patahkan sepatah -patahnya secara sempurna oleh Aji yang bersikap romantis bersama puri sepanjang jalan. Sikapnya memang dingin tapi menggandeng erat tangan Puri seolah tak mau kehilangan itu adalah moment terpatahkannya harapan semua gadis yang mengidolakan Aji. Ada yang merasa insecure dan mundur tertaur dan ada yang tetap maju terus pantang mundur. "Gak usah peduli. Kalau ada sesuatu yang membuat kamu gak nyaman. Kamu bilang sama Mas. Ngerti?" tanya Aji sambil melirik ke arah Puri yang sejak tadi menunduk. Ia sama sekali tak berani menatap lurus ke depan. Pandangan sini dan nyinyir sudah cukup membuat nyali Puri menciut. Padahal Puri adalah istri SAHnya bukan sekedar pacar, kekasih, atau tunangan. Statusnya sudah jelas, ISTRI AJI. "Selamat pagi semua," sapa Aji ramah dan menatap semua orang yang membalas sapaan Aji dan menatap Puri yang ada di belakang Aji dengan tangan yang saling bertaut. Bisik -bisik di balik bilik kerja pun di mulai. tak peduli masih pagi, kalau ini gosip mahal dan viral maka harus segera di bahas dan jadi bahan perbincangan. "Mas ... Puri kerja ya. Itu bilik kerja Puri," ucap Puru pada Aji yang terus berjalan malah ingin membawa Puri ke ruangannya. Aji menatap Puri lekat. "Kamu gak mau makan?" tanya Aji pelan. "Sudah waktunya Mas. Ini sudah jam masuk kerja. Puri gak mau di anak emaskan," ucap Puri pelan. "Ya sudah. Kerjalah," titah Aji pada Puri. Puri melepas tangan Aji dan pergi dari hadapan Aji menuju bilik kerjanya yang rapi. Puri menyalakan komputer dan CPU lalu mulai membuka kerjaannya dari email. BRAK!!! Suara gebrakan meja membuat Puri tersentak kaget dan hampir saja meloncat berdiri dari tempat duduknya. Pikirannya masih kacau melihat mata -mata sinis tadi dan sekarang beberapa wanita mendatangi meja kerja Puri. "Heh!! Gadis kurus!! Loe ada hubungan apa sama Pak Aji? Sampai dia gandeng loe begitu? Bukannya dia udah punya cewek bohay kayak model majalah? Terus kenapa sekarang bisa sama loe? Loe pelet? Atau ... Loe kasih serabi loe itu!!" teriak salah satu perempuan yang tidak terima dengan kedekatan Puri dan Aji. Puri menatap Anggu dnegan tatapan tajam. "Apa peduli loe?" tanya Puri kesal. "Hei ... Gue jengah lihat loe. Baru kemarin loe tunangan sama Arka, sekarang loe malah dekat sama Pak Aji? Mau loe apa? Jadi cewek murahan? Jadi pusat perhatian lelaki? Atau loe lagi kurang duit?" tanya Anggun yang makin emosi melihat Puri terlihat santai seolah tak ada masalah. "Gue lagi males berdebat ya. Loe semua mending pergi dari meja gue. Sebelum keributan ini terpantau dari CCTV. Paham?" teriak Puri makin tersulut emosinya. "Ada paa ini!!" teriak Aji dari lorong bilik menuju arah bilik Puri dan membut beberapa wanita yang ada di sana langsung bubar seketika. Aji membawa satu tentengan plastik dan di letakka di meja Puri. "Jam sembilan ada rapat interen. Kamu dan Jenny langsung ke ruangan ya," titah Aji pada Puri. "Iya Pak," jawab Puri tegas. "Pak?" tanya Aji pada Puri menyelidik. "Ini di kantor. Biasakan menggunakan bahasa baku dan baik serta sopan," ucap Puri santai. "Baik Mbak Puri," jawab Aji santai dan pergi dari hadapan Puri. "Pak Aji ...." teriak Puri dnegan keras. Aji hanya tertawa keras dan terus meledek Puri. "Ada apa Mbka Puri," goda Aji pada Puri. Puri mendengus kesal dan terus menggerutu asal sambil bekerja. Puri menatap bungkusan putih yang biasa ia beli dengan Jenny. Apalagi kalau bukan bubur ayam Pak Kumis yang sering mangkal di depan. "Kapan belinya? Ekhemmm ... Mungkin tadi nyuruh OB." "Hai ... Widih ... Bubur ayam Pak Kumis ya? Kok beli sendiri?" tanya Jenny yang ikut makan bubur ayam Puri. "Makan gih. Aku lagui gak nafsu makan," ucap Puri pelan. Ia paling hanya menyuap dua atau tiga sendok bubur saja dan sudah cukup. Jenny langsung mengambil kotak steroform dan langsung menikmati sisa bubur yang masi banyak itu tepat di samping Puri. "Ada rapat jam sembilan di ruangan Pak Aji," ucap Puri dnegan suara tegas. "Ya, Gue udah di kasih tahu tadi baru aja," ucap Jenny pelan. Keduanya diam, Puri sibuk membuka email dan menulis di buku lalu membuka email lainnya lagi. "Hari ini ada yang sanggup mematahkan sayap burung dara begitu banyak," ucap Jneny tertawa lepas. Puri menatap Jenny lekat dan menggelengkan kepalanya pelan. Ia tahu sindiran itu khusus untuk dirinya. "Puri kan? Orang yang sanggup mematahkan sayap burung dara seketika dalam waktu singkat," ucap Puri tetawa mengejek. "Ya dong. Gue cuma mau bilang, loe itu harus bangga bisa dapetin Pak Aji yang super kece," ucap Jenny pelan sambil menghabiskan suapan terakhir bubur ayam legendaris itu. "Udah habis? Sana kerja," titah Puri pelan. "Dih ngusir," ucap Jenny tak terima. "Aku lagi males bahas itu Jen. Sebentar lagi rapat juga, persiapkan saja. Dari pada Pak Aji marah," cicit Puri pelan. "Marah ada pawangnya ini," ucap Jenny menggerutu kesal dan bangkit berdiir lalu masuk ke dalam bilik kerjanya yang berseberangan dengan Puri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN