Malam ini, rumah Damien tampak tenang. Hanya terdengar sesekali detak jam dinding dan desiran angin yang menembus jendela. Seraphina menunggu saat yang tepat. Ia sudah menyiapkan semua perlengkapannya sejak sore, tas kecil berisi pakaian dan uang, sepatu datar, serta peta desa. "Ini satu-satunya kesempatan. Kalau aku menunggu terlalu lama, mungkin tidak akan ada lagi," pikirnya. "Aku harus bertemu Ibu. Aku tidak bisa menunggu lebih lama." Ketika suara langkah di lantai satu mulai mereda dan lampu-lampu di ruang tengah dipadamkan, Seraphina bergerak. Perlahan, ia membuka pintu kamar, memastikan lantai di koridor tak menimbulkan suara. Menekuk tubuhnya sedikit, ia mengintip ke bawah. Tidak ada seorang pun. "Oke… tenang, satu langkah demi satu langkah. Jangan sampai ketahuan," gumamnya d

