Selvi nyaris tak sempat menjerit ketika seseorang menariknya dari kegelapan parkiran samping gedung. Tangan kuat membekap mulutnya, tubuhnya terangkat dari lantai, lalu dunia seakan bergeser—langkah cepat, napas berat, dan detak jantungnya sendiri yang menggema di telinga. Ia meronta. Siku menghantam daada, kaki menendang liar. “Diamlah.” Suara itu rendah. Familiar. Bergetar, bukan karena takut, tapi karena emosi yang ditahan terlalu lama. Selvi membeku. Napas hangat itu. Aroma itu. Campuran parfum mahal dan sesuatu yang sangat ia kenal… sesuatu yang selalu membuat dadanya sesak sekaligus tenang. “Aiden…” bisiknya, nyaris tak terdengar. Pegangan di mulutnya perlahan mengendur, diganti dengan kain yang menutup matanya. Tangannya diikat, tapi tidak kasar—justru terlalu hati-hati, seola

