Pramasta berdiri di ambang pintu taman belakang, matanya menyapu area yang remang. “Ayu?” panggilnya lagi, kali ini sedikit lebih pelan. Tidak ada jawaban. Ia melangkah turun dari teras, sepatu kulitnya menyentuh rumput yang masih basah oleh embun malam. Udara dingin menusuk tipis, membawa aroma tanah dan bunga kamboja. Lalu—BRAK! Seseorang tiba-tiba muncul dari samping dan memeluknya dari belakang. Pramasta refleks menegang, hampir saja memutar tubuh untuk melawan… sebelum suara familiar itu terdengar. “Ciluk Baaa!” Ia langsung mengembuskan napas panjang. “Ayu…ih.” Muka Prastama langsung tertekuk. Istrinya tertawa kecil di punggungnya, suara yang selama ini selalu bisa melunakkan semua ketegangan dan rasa lelah di tubuhnya. “Kenapa sih kamu suka bikin kaget?” gerutunya, tapi nad

