Lampu ruang makan menyala lembut, memantulkan cahaya hangat di atas meja kayu panjang yang rapi. Piring porselen putih, gelas kristal, dan set peralatan makan bersih tersusun sempurna. Aroma masakan ibu Pramasta—nasi hangat, ayam bakar dengan bumbu rempah, sayur bening, dan sambal kecil—mencampur harum teh melati yang baru diseduh. Ayu duduk di sebelah Pramasta. Tangannya diletakkan di pangkuan, posisi yang rapi tapi rileks. Mata Ayu mengamati seluruh ruangan. Meski hatinya sedikit tegang, ia tetap menahan senyum, menyesuaikan diri dengan suasana. Pintu ruang makan terbuka. Selvi masuk terlebih dahulu, mengenakan gaun sederhana tapi berkelas, rambutnya tertata rapi. Mata birunya menyapu ruangan, berhenti sesaat pada Ayu. Sekilas, senyum tipis menghiasi bibir Selvi, tapi Ayu tahu itu buka

