Mobil Pramasta meluncur tenang memasuki halaman rumah besar itu. Rumah yang familiar karena statusnya sebagai pacar Dimas, meskipun tidak seutuhnya diterima. Namun kini berbeda. Hari ini, Ayu datang sebagai istri Pramasta. Gerbang besi terbuka otomatis. Halaman rapi dengan taman terawat, bunga mawar yang baru mekar di sisi jalan setapak, dan air mancur kecil di tengah. Rumah itu berdiri kokoh, megah tanpa berisik. Kekayaan yang tidak perlu pamer. Ayu menelan ludah. “Kalau kamu mau putar balik—” Pramasta melirik sambil menyetir. “Jangan,” potong Ayu cepat. “Aku sudah siap.” Pramasta tersenyum kecil. Ia memarkir mobil, lalu turun lebih dulu, membukakan pintu Ayu seperti kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan. Ayu tersenyum tipis. Ia merasa lega sekaligus gugup. Begitu mereka melangka

