Matahari baru saja menembus tirai kamar ketika Ayu terbangun. Tubuhnya masih hangat dari pelukan Pramasta semalam. Ia membuka mata perlahan, menatap wajah suami yang tidur tenang di sisinya, napas stabil, bibir sedikit tersenyum. Rasa lega menyeruak, seolah malam tadi menghapus semua sisa capek dari hati dan pikiran. Pramasta bergerak, membuka mata. “Selamat pagi, Istriku,” katanya dengan suara serak karena baru bangun. Ayu tersenyum, membalas dengan lemah, lalu berguling sedikit agar bisa mendaratkan kepalanya di bahunya. “Aku lapar,” gumam Ayu. Pramasta tertawa ringan. “Sarapan dulu, aku masak sesuatu yang nggak akan bikin kamu sakit perut.” Ia bangkit, membetulkan rambutnya, lalu menyiapkan dapur. Sementara itu, Ayu duduk di kursi, menatap suaminya bekerja. Cara dia mengiris sayu

