Dua hari di vila Aiden terasa seperti surga. Tidak ada nama keluarga. Tidak ada marga yang harus dijaga. Tidak ada status “tunangan pewaris” yang melekat di bahunya seperti beban mahal. Selvi bangun tanpa alarm, mengenakan kemeja Aiden yang kebesaran, rambutnya tergerai tanpa perlu disanggul rapi. Ia minum kopi tanpa harus menjawab telepon siapa pun. Tidak ada ayahnya yang bertanya tentang Dimas. Tidak ada ibunya yang menyinggung tanggal resepsi. Di vila itu, Selvi hanya Selvi. Aiden tidak banyak bertanya. Pria muda itu tahu kapan harus bicara, kapan cukup menjadi tempat bersandar. Ia menemani Selvi dengan hal-hal sederhana seperti sarapan yang terlambat, musik pelan, dan sentuhan yang tidak menuntut apa pun selain rasa manis dan aman. Namun kebebasan, seindah apa pun, selalu punya batas

