Langit sudah mulai meredup saat Ayu memarkirkan Scoopy putihnya di halaman rumah. Mesin dimatikan, helm dilepas, rambutnya yang tadi terikat rapi kini sedikit berantakan karena angin perjalanan. Ia menarik napas panjang sebelum turun. Ada rasa capek yang bukan sekadar fisik, lebih seperti sisa beban yang baru saja dilepaskan, tapi masih meninggalkan bekas hangat di d**a. Pintu rumah tidak dikunci. Dia tersenyum sepertinya Pramasta sudah pulang, pikirnya. “Pram?” panggilnya pelan sambil melepas sepatu. "Kenapa, Cintaku?" sahutan terdengar. Ayu tersenyum mendengarnya, "Kamu di mana?" “Aku di dapur,” jawab Pramasta dari dalam. Ayu melangkah masuk. Bau tumisan bawang putih menyambutnya. Pramasta berdiri membelakangi pintu, mengenakan kaus rumah dan celana santai, mengaduk sesuatu di waja

