Dimas berdiri di luar pagar puskesmas lebih lama dari yang ia rencanakan. Jasnya rapi, kancingnya terpasang sempurna, sepatu kulitnya bersih tanpa debu. Ia terlihat seperti seseorang yang datang dengan tujuan jelas—padahal justru sebaliknya. Tangannya mengepal di sisi tubuh, bukan karena udara dingin, melainkan karena dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang tak punya nama. Ia menatap bangunan dua lantai itu seperti menatap foto lama. Bentuknya masih sama, warnanya sedikit memudar, tapi kesannya sudah berbeda. Tempat itu dulu sering ia kunjungi tanpa beban. Sekarang, hanya berdiri di depannya saja membuat napasnya terasa lebih pendek. Banyak hal berubah sejak terakhir kali ia berdiri di sana. Termasuk Ayu. Di taman kecil di sisi gedung, Ayu yang baru saja menutup kotak bekalnya mengangk

