Pagi itu, Ayu terbangun tanpa alarm. Bukan karena kebiasaan jam biologisnya sebagai tenaga kesehatan, melainkan karena ada lengan yang melingkar di pinggangnya—hangat, protektif, dan terlalu nyaman untuk disebut asing. Pramasta masih tertidur. Wajahnya menghadap Ayu, jarak mereka nyaris tak berjarak. Rambut pria itu sedikit berantakan, rahangnya tegas, napasnya teratur. Tidak ada sisa ekspresi dingin seorang CEO. Yang tersisa hanya wajah seorang suami yang tidur nyenyak setelah hari panjang—dan malam yang sah. Ayu menatapnya lama. Bukan karena berlebihan, tapi karena otaknya masih mencoba mengejar kenyataan: Pria ini suaminya. Bukan lagi pria yang diam-diam hadir sebagai bayangan di hidupnya atau sekadar adik dari mantan. Pramasta adalah suaminya sekarang. Ayu bergerak pelan, berusaha

