Bab 40 Kalah

1116 Kata

Dimas terbangun dengan kepala berdenyut dan tenggorokan kering seperti diseret semalaman. Bau alkohol masih menggantung di udara, bercampur aroma apartemen yang bukan miliknya, aroma mahal, bersih, dan terlalu rapi untuk seseorang yang semalam kehilangan kendali. Ia membuka mata perlahan. Yang terlihat adalah plafon putih dan lampu gantung minimalis. Sofa di seberang yang berantakan. Botol bir kosong di lantai, satu bahkan rebah miring di dekat kakinya. Hal yang paling terasa adalah kesunyian dan rasa kesepian yang membuat dadanya sesak. “Selvi?” Suaranya parau, hampir tidak terdengar. Dia memanggil tunangannya, satu-satunya orang yang bisa dicarinya sekarang meskipun hatinya jelas mengarah pada orang lain. Tidak ada jawaban. Tempat itu hening. Dimas duduk perlahan, memijat pelipis. In

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN