Malam setelah Selvi ditampar orang tuanya, Dimas tidak bisa tidur. Kamar gelap, lampu mati, tapi pikirannya menyala terlalu terang. Rumah sakit sudah mengonfirmasi: tidak ada operasi darurat atas nama Selvi malam itu. Ia sudah menelepon langsung kepala administrasi. Jawabannya tegas. “Dokter Selvi tidak ada jadwal operasi tambahan, Pak.” Namun, dia tidak bisa menuduh karena ada saksi. Aryo. Dokter Aryo mengatakan bahwa memang ada pasien gawat dan Selvi dipanggil mendadak. Bahkan ia mengirim pesan konfirmasi singkat. Dimas membaca ulang chat itu untuk kesekian kali. “Iya, Mas. Dokter Selvi memang dipanggil mendadak. Tadi saya yang hubungi.” Masalahnya, nada pesan itu terlalu formal dan seperti disengaja. Juga, Aryo terdengar gugup saat ditelepon. Apa mereka sekongkol? Dimas berdiri,

